Bisikku akan di telingamu.
Teriakku akan di hatimu.

Langkahku menarik keretamu.
Diamku saat cenderung kepadamu, kepadaMu.

Suara dan langkahku bukan sempurna,
tapi kau tahu bagaimana Kau ingin benahi.
Aku dengar Tuhan dari suaramu, dalam diamku.
Aku dengar suaramu di naungan Tuhan yang satu.

Aku dengar Tuhan dalam keputusasaan kita,
saat langkah sudah lelah,
saat suara sudah usang.

Merdeka macam apa yang kamu mau?

 

Saya, sebagai manusia yang mengenyam pendidikan dasar di Indonesia, hapal bahwa tanggal kemerdekaan Indonesia itu 17 Agustus.

Teman dari India sebelah saya yang besar di India bilang tanggal kemerdekaan India itu 15 Agustus. Kawan dari Cina yang sedang rebahan di muka saya, dia punya cerita agak berbeda.

Aku tanya, “What is China’s Independence Day?“, dianya bingung.

Aku tanya lagi, “What is China’s IN-DE-PEN-DENCE day?”, sekiranya artikulasi saya agak kacau seperti biasa.

Dianya tanya balik “I don’t get you; independence from WHAT?

Aku timbali balik, “Like U.S.’: July 4th.

Dia jawab, “Ah, National Day; October 1st.

 

Beberapa negara [merasa] besar secara spiritual merasa tidak pernah dijajah oleh bangsa lain. Sebagai gantinya, “tanggal nasional” itu biasanya adalah momen unifikasi, deklarasi dokumen tertentu, atau apalah; yang menandakan hari di mana pihak yang berperan sebagai pemerintah sudah pegang kuasa atas teritori dan orang-orang di dalamnya. Cina segai negara yang begitu besar dengan sejarah yang panjang, megah, dan dinamis; belum pernah merdeka. Di sudut lain, Indonesia punya, entah ini pertanda baik atau nelongso.

Tanggal tanggal proklamasi buat Indonesia kita sebut sebagai “Hari Kemerdekaan”, “Hari Merdeka Nusa dan Bangsa”, “hari lahirnya bangsa Indonesia”; kita ingat dari lagu nasional “Hari Merdeka” gubahan Husein Mutahar:

Tujuh belas Agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita.

Hari merdeka nusa dan bangsa, hari lahirnya bangsa Indonesia.

Merdeka.

Sekali merdeka tetap merdeka, selama hayat masih di kandung badan.

Kita tetap setia tetap sedia, mempertahankan Indonesia.

Kita tetap setia tetap sedia, membela negara kita.

 

Konsep kemerdekaan yang dibawa lagu nasional satu ini dalam dan bisa jadi barang perbincangan. Toh penafsiran dan apresiasi karya seni juga sah saja dibawa ke mana-mana. Mari kita tinjau secara etimologis sekenanya frasa-frasa mengenai hari kemerdekaan.

  • hari: diambil dari kata matahari, idenya menjelaskan siklus rotasi bumi yang bikin matahari kita tampak timbul tenggelam dengan periode tertentu;
  • lahir: lebih dekat ke mbrojol daripada ndilalah mak mbedunduk. Kelahiran adalah titik di mana berbagai proses di balik layar yang kompleks, runyam, berkepanjangan, dan tak jarang pula, menggunakan lebih banyak sumber daya lahir dan batin; telah membuahkan hasil yang setidaknya bisa ditunjukkan ke khalayak ramai atau paling tidak berdiri atas entitasnya sendiri yang mandiri;
  • merdeka, Kemerdekaan: kita bahas belakangan, ini bahasan pokok tulisan ini yang bakal makan jatah paling banyak;
  • nusa: teritori, tempat kediaman, luasan atau cakupan tanah, air, dan udara yang suatu entitas sosial miliki;
  • bangsa: merujuk ke entitas sosial dalan “nusa” tersebut, biasanyanya berbentuk sekelompok orang yang kumpul-kumpul karena irisan atau gabungan budaya dan etnisitas.

Beberapa ide yang bisa ditarik dari lirik lagunya:

  • bangsa Indonesia belum lahir sebelum tanggal 17 Agustus 1945. Kalau kita buat analogi antara bayi dan negara Indonesia: hari lahir lebih mudah ditentukan. Hari bikin bisa jadi entah yang mana. Kalau mau lebih spiritual: hari ditiupkan roh juga kita mana tahu kapan terjadinya;
  • tanah dan orang Indonesia sekarang punya legitimasi. ini harapan yang agak terlampau optimis di saat itu;
  • teritori Indonesia masih kembang-kempis pasca ; bahkan kemudian agresi militer, Renville, dan caplok balik Papua zaman Trikora.

Bangsa Indoensia itu orang-orang yang mana? Indonesia, sedari dahulu adalah masyrakat yang akseptif dengan berbagai adukan etnis.

 

Tapi catatan tanggal lahir (atau hari jadi) sedari dulu umumnya tidak lebih dari instrumen administratif untuk bikin KTP, SIM; atau alasan buat (biasanya) mesra-mesraan macam ulang tahun orang-orang spesial di sekitar kita atau momen spesial macam peresmian kantor. Tanggal kelahiran boleh banyak punya kegunaan praktis, tapi menjadikan tanggal kelahiran sebagai tanggal bikin adalah tindakan reduksionalis, penyederhanaan yang kadang kelewatan, sehingga kita melupakan kejadian-kejadian penting yang mendahului. Untuk alasan ini kita boleh terima 17 Agustus 1945 jadi “Hari Lahir” Bangsa Indonesia.

Orang-orang Indonesia sudah mengalami banyak hal bahkan sebelum tanggal 17 Agustus 1945: pergerakan politik kenegaraan macam Budi Utomo, Sumpah Pemuda, tanggal Ratu Wilhelmina naik tahta. Lebih dari itu, dan banyak momen penting yang terjadi secara berkesinambungan tanpa catatan tanggal. “Merdeka” itu komemorasi fungsional, bisa dipakai untuk berbagai keperluan.

Tapi sejatinya proses “bikin”, pengejawantahan eksistensi, adalah proses yang lebih esensial. Kita kesulitan saat harus bilang kapan, di mana, dan siapa mengenais proses pengejawantahan tersebut mulai, mencapai marka-marka tertentu, dan berakhir; karena tentunya sejarah, catatan pohon kehidupan bikinan manusia, selalu bias dan terbatas. Biar Tuhan saja lah yang punya catatan lengkap dengan format yang Ia tentukan.

 

Tiap orang lahir merdeka. Sekalinya orang sudah lahir berarti dia sudah merdeka. Budak zaman dulu itu bukan dimerdekakan, tapi dibebaskan. Cuma kepada Tuhan kita tidak merdeka, karena nyawa ini kita boleh sewa.

(Ditulis sambil jagain temen mabok yang tidur di lapangan bekas sekolah yang tutup. Hotaru Kaikan, Nijo, Matsuda-shi, Shimane-ken.)

Kita sering melihat foto makanan diunggah ke jejaring sosial, utamanya menu makanan di restoran. Fenomena ini, disebut foodstagram, tentunya bentuk vanity yang sedikit banyak menidakacuhkan kenyataan bahwa masih banyak orang di lingkungan kita yang bahkan masih kesusahan makan yang layak (apalagi mewah dan menarik). Kesombongan tentunya bukan hal yang patut disebarluaskan.

Bentuk berlebih-lebihan di makanan sudah ditemui dari dulu: termasuk dosa kardinal (bisa jadi campuran antara kerakusan dan kesombongan) dan jadi kawan setan. Salah satu bentuknya bisa ditemui saat baguette dibuat panjang-panjangan oleh kelompok bangsawan yang lupa kondisi petani yang makan juga susah.

Lalu apa mengambil foto makanan sama sekali kegiatan yang tanpa tujuan? Jawabannya adalah “tidak”, masih ada beberapa foto (atau kegiatan memfoto) makanan yang menurut saya masih baik-baik:

  • endorsement: foto makanan sebagai etiket di kemasan (contoh: mie instan) atau reklame di muka warung (contoh: pecel lele) tentunya layak. Kalau kita memfoto makan pesanan dari restoran dan kita merekomendasikan ke kerabat tentunya boleh saja difoto,
  • ngajak makan: foto hasil masakan untuk kemudian mengajak makan teman dan kerabat adalah bentuk keramahan yang teramat mulia, apalagi kalau yang diajak adalah mahasiswa seret macam saya,
  • resep makanan: masakan Bu Sisca Soewitomo adalah sebagian dari identitas kuliner Nusantara, cuplikan dari khasanah kuliner tentunya berharga. Makanan di festival kuliner bisa masuk kategori ini asal diliput secara tepat dan tidak berlebih-lebihan.

Kesimpulannya: makanan itu baiknya tidak jadi ajang kesombongan. Katakan tidak untuk foodstagram! Wedding cake yang dibuat berlebih-lebihan juga tidak baik!

Dari community channel: [youtube]https://www.youtube.com/watch?v=t5NmmdUbI3Q[/youtube]

Pasangan itu:

melihat dengan iba,
memandang dengan kagum;

saling memanipulasi,
tapi berniat untuk tidak saling menghancurkan;

merasakan suka, kadang memaksakan suka,
menjalani duka;

bergoyang utara dan selatan dari sumber daya yang sama;
merintangi halangan antara barat dan timur untuk tujuan yang kurang lebih sama.

Sekarang kau hanya terduduk lelah,
bersakit-sakit merengkuh tugas demi tugas yang harus segera purna.
Dan kau melihat orang-orang, kawan-kawan barumu, mengerjakan hal lain,
dengan begitu lihai dan tampak begitu “menjiwai”.
Sesaat itu pula terbersit rasa iri,
“Apa aku cukup baik untuk berada di sini?”

Sadarlah bahwa bahkan di hutan yang sama,
ada semut, ada nyamuk, ada kadal, ada ular, ada ikan, ada rubah, ada banteng.
Kadang mereka sama saja,
tapi mereka sejatinya sama,
asal mereka bertingkah baik segalanya baik-baik saja.

Sadarlah bahwa di kandang yang sama,
ada kenari jantan dan betina,
ada telur yang dierami kenari betina,
ada telur yang dimakan kenari jantan,
ada anak burung yang besar dan kecil,
padahal usia mereka cuma beda 2 menit.

Kayamu adalah kayamu, kayaku adalah kayaku.
Karena mengambil hak orang lain adalah sekacau-kacaunya penghasilan.
Karena selamban-lambannya orang berlari,
dia sudah cukup mahir berdiri.

Kau harus terima apa yang Tuhan beri sekarang,
agar kau bisa belajar untuk tetap rendah hati saat Tuhan memberimu yang lebih baik,
agar kau bisa belajar untuk tidak mengemis saat Tuhan memberimu tidak sebanyak sekarang,
agar kau sadar kau itu apa yang Tuhan beri.
Dan cuma kepada Tuhan kita boleh mengemis.

Seketika engkau dapat dengan bangga mengayun pisau besar itu
untuk membuka jejak baru di hutan,
engkau berpikir: aku dapat mengayun pisau-pisau lainnya,
atau setidaknya sudah cukup luhur untuk belajar cara mengayun yang indah.
begitu pula pedang,
begitu pula kapak,
begitu pula bayonet.

Esoknya engkau datang ke pandai besi,
dan kamu sadar kau belum cukup pandai.
Kau bahkan tak tahu bagaimana lelah mengasah logam-logam itu.
Kau sadar tajam tak selalu menarik.

Bahkan esoknya kau masih menyumpahserapahi pecahan kaca kecil yang menusuk telapak kaki kananmu.

Tajam itu selalu pengorbanan.

Seharusnya sesaat lagi aku harus bergeas
pergi ke negeri di mana Surya dipuja.
Saat ini aku masih berbaring,
mulat-mulet di pembaringan.
Mataku masih berkaca-kaca,
aku masih terus menguap sesekali.

Aku selalu tahu
kasih Ibu lebih hangat dari Surya,
selalu istimewa buatku.

Tapi sekarang aku masih mengantuk,
biarkan aku tidur lagi sebentar lagi di pangkuanmu
sebelum aku berangkat menerjang angin beku di sana.

Kalaupun sinarmu pudar saat kukembali,
kalaupun aku lupa bagaimana terikmu,
aku akan masih selalu ingat hangatnmu.

Ceritanya hari ini aku bikin skrip shell (Bash) buat jalankan daemon untuk beberapa user berdeda di gateway lab. Menyadari aku baca ABS belum pernah tamat, harus baca-baca lagi. Hasilnya:

USERS=( byu liyan )
    
    start() {
    for user in ${USERS[@]}
    do
    sudo -u $user transmission-daemon
    done
    }

Hati-hati, Bash itu space-sensitive!