Muda,
sedikit keblinger, tapi berusaha jujur.
Tatap siluet rembulan yang belum tampak,
mendung.
Cermat-hitung terukur,
cerah.
Kepala tidak lebih dulu dari kaki dan tangan,
payah.
Pasir dan laut,
kayuh.

Gubug doa dan sujud menyambut dengan air,
dan berkumpul.
Lalu air lagi.
Muka gubug doa yang lain membawakan air manis,
dalam kantung,
dingin,
berbumbu senyum ramah.

Kita lalu lemah,
sungguh daya datang dari Tuhan,
Bentuknya api, logam, dan kayu,
bukan congkak dan sombong,
bukan kekuatan dan keberadaan.
Bentuknya pasrah dan terima kasih.

Puji Tuhan, kita masih disambut rumah.

Jodoh itu (buat saya) bukan masalah cocok-tidak-cocok, berbagai kriteria, chemistry, atau apalah. Bukan berarti hal-hal tersebut tidak penting dan bukan faktor yang membentuk pranata hubungan interpersonal ini, tapi sungguh saya tidak mau melangkahi siapa yang Tuhan (dan orang tua) berkenan. Saya berkenan mengarungi kacau balau ala kadarnya, memaksa kekacaubalauan, memaksa kealakadarannya. Saya tidak memilih untuk bersama “siapa yang bagaimana”, tapi menerima untuk menemani “bagaimana yang siapa-siapa”.

I am willing to ride a hardtail for a quick stroll to grocery.
I am willing to ride a road bike for a venture off the road.
…but I might need to change the tire.

I might not be good with full-susp, but I can learn to ride one.
I love riding uphill, enjoying the hard breathing, lactate acid kicking in, but that may not be as important.
I go stupid going downhill. I may not know the best line, but I try to be responsible when I pick my line.

It might be a vintage randonneur frame that I abuse on daily basis,
but I’ll take care of her so that we can still ride together…
or, to put simply, abuse her more… further down the road. 

Bapak Johan Musseuw, Singa Flanders (bayangin ada atlet yang napak tilas Jendral Besar Soedirman, terus kau ganti latarnya ke Perang Dunia I gitu), bilang: crashing is part of cycling as crying is part of love. Saya bilang: kalau kita belum nangis bareng, kita belum sepedaan bareng, baru habis itu kita jatuh bareng.

Setelah dari dulu pengen ada parkir sepeda di Elektro (bareng teman-teman angkatan 2008), akhirnya ada juga (walaupun secara teknis parkiran sepedanya agak ‘cacat’, tapi oke aja, deh!

Terima kasih buat semua pihak yang mengusahakan rak parkir sepedanya.

parkir sepeda

Fakultas Teknik Universitas Brawijaya punya “klub” sepeda yang namanya GET’S: Gowes Engineering Team Sport. Wait? Struktur frasanya dalam bahasa (kem)-Inggris agak lucu. Mari kita lucuti kata demi kata

IMG_20131117_065929

Gowes: (jv) bersepeda
Engineering: (en) rekayasa, Teknik
Team: (en) tim [umumnya digunakan dalam perlombaan], emang klub kita pakai lomba, ya? 😀
Sport: (en) olahraga
jadi: olahraga tim bersepeda Teknik, atau semacam itu, lah.

Foto tampak depan dan belakang jersey-nya ini.
IMG_20131117_080505IMG_20131117_080429

Di Kayutangan (Basuki Rachmad) aku melihat plat ini di pinggir jalan–bukan rambu juga, sih!

fira di depan rambu

Mari kita lihat lebih dekat.
closer look

Blah, menurutku ga perlu. Pengendara kendaraan di Malang (dan Jawa Timur secara umum) bersahabat dengan pengguna jalan lain. Kamu ga bakal ditendang ke pinggir jalan. Ga ada acara ramai-ramai naik ke troroar kaya di Jakarta. Semua berbagi jalan raya miliki publik yang dipakai bersama-sama.

Bahkan, buat pengendara sepeda: banyak orang yang besahabat. Aku pernah jatuh ke pintu mobil orang gegara cleat pedal belum lepas–dan beliau (dengan mobil van-nya) tidak marah, malah menasehatiku untuk memakai sepatu cleat yang lebih baik.

Kalau jalan pelan–jalan di kiri. Kalau masih dipepet, berarti kamu kurang kenceng jalannya.

Lanjutan dari Pacar Sepeda.

Setelah aku merenung kembali tentang hubunganku sama sepeda, ada beberapa poin yang aku ingin tambahkan tentang pacar sepeda. Pikiran ini muncul setelah ada teman yang minta rekomendasi sepeda, aku tunjukkan dia ke sepeda hybrid-touring keluaran salah satu pabrik sepeda swadesi. 🙂

7. Boleh punya banyak sekaligus
Alasannya beragam: mulai ganti sepeda tiap pasaran/tanggal, beda peruntukan jalan dan jarak tempuh, atau menuruti suasana hati saat itu.

Aku gak yakin ada perempuan (atau laki-laki) yang membolehkan pasangannya memiliki pasangan lain, kecuali dengan alasan yang teramat dalam (atau ketidakpedulian, hehehe). Sementara kita bisa tukar-tukar sepeda sesuka hati (asal jangan nyuri punya orang aja!)

8. Boleh pinjam punya teman
Asal ga dipake jatuh dan bawanya swift pasti dibolehin, deh. Coba kalau kita pinjam pacar orang pasti digebukin.

9. Boleh coba dan terawang dulu
If you know what I mean, hehehe. Kita bisa coba sepeda di dealer sebelum kita beli. Spesifikasi sepeda bisa kita terawang lewat spec-sheet atau lihat langsung di showroom.

Sama sepeda enak, tho?

Langsung ke inti pembicaraan, maksud judul yang kutulis adalah: sepedaku adalah pacarku. Bukan berarti aku akan menikah dengan sepeda, tapi mencurahkan hasrat pada sepeda walau kita bukan pemancal profesional.
–jomblo detected

Ada beberapa poin dari sepeda yang kita harapkan dari ‘pacar’ ideal, mari paparkan satu demi satu.

1. Setia
Sepeda tidak berselingkuh, dia akan tetap bersama pemiliknya–kecuali dipinjam dengan atau tanpa izin pemiliknya (baca: dicuri).

2. Diajak jalan ke mana juga mau
Sepeda pergi bersama-sama ke mana kamu mengayuh. Kalau kamu gowes ke gunung dia ikut nemenin ke gunung, kalau gowes ke pantai dia nemenin ke pantai, gowes ke kampus nemenin ke kampus, ke kantor, ke rumah, ke pasar, juga nemenin.

3. Senang-sakit direngkuh bersama
Waktu tanjakan, turunan, jalan raya, nge-sprint, jump, drop, hop, bahkan ketika jatuh; sepeda menemani kita.

4. Cakep
Semakin banyak kita investasi pada parts yang nice dan melakukan perawatan rutin, sepeda bakal makin nyaman dikendarai dan sedap dipandang (apalagi lihat framesetnya Pina Kobh–cakep banget menurutku)

5. Ga materialistis
Sepeda ga pernah rewel: ngajak belanja, ngajak nonton, ngajak jalan-jalan. Yang ada sih pemiliknya khilaf beli komponen mahal habis dikomporin temen, hehe.

6. Ga gengsi–sok jaga image
Sekeren apapun sepedamu, ga bakal ngerusak image kalau kamu pakai ke pasar buat beli sayur (tapi paling sangkil pakai sepeda keranjang, to?). Dan sejelek apapun sepedamu, asal layak jalan, ga menghalangi kamu makan di restoran (kecuali ga ada tempat parkir yang bisa disisipi sepeda)

Kesimpulannya: orang yang naik sepeda bisa jadi jomblo–tapi ga pernah sendirian.

____
PS: pernah waktu aku bertamu ke rumah ‘teman perempuan’–Mei, sepedaku yang kutaruh di teras jatuh kena angin. Aku ga sengaja teriak, “Aduh, pacarku jatuh!” di depan Mei dan ayahnya. Suasana terasa aneh untuk beberapa waktu sampai aku mengangkat sepedaku dan memarkirnya kembali. LOL

Spiritualisme dalam Bersepeda

Buat tiap orang bersepeda adalah pengalaman dan alasan yang berbeda. Bersepeda bisa jadi olahraga, (alternatif) transportasi, gaya hidup, profesi, atau sekadar mengikuti tren/gaya. Tapi lebih jauh dari itu, beberapa orang merasakan bersepeda adalah sebagian dari pengalaman spiritualisme.

Bukan sedikit kita lihat atlet di Grand Tour yang mengenakan kalung rosary, berdoa kemudian menyilangkan tangan antara bahu saat start, atau mengangkat tangan ke langit saat memengangkan etape untuk menghormati rekannya yang meninggal.
–RIP: Castarelli, Weylandt

–sayangnya di RB Road Rage atau Rampage biasanya bukan doa tapi kata-kata kotor dibarengi acungan jari tengah, duh. Ga bisa disalahkan juga, sih.

Kadang saat kita begitu lelah dan badan tidak lagi bisa diajak kompromi: kita tidak bisa mengatur ritme nafas dan kayuhan, pandangan kehilangan fokus, pusing di kepala dan sebagainya; kita sadar badan ini bukan milik kita–badan kita milik Tuhan.

Lebih ekstrem lagi, saat kita mengalami kecelakaan, entah itu ditabrak/menabrak, terpelating, tersenggol, terbentur, malfungsi rem, terantuk lubang/gundukan, terpeleset, dan sebagainya; kemudian jatuh tergeletak tidak berdaya–harusnya kita sadar bahkan nyawa ini hanya titipan, selebihnya milik Tuhan.

Terlepas dari agama yang dianut, melibatkan aspek spiritualisme dalam bersepeda tentunya hal yang baik. Kita akan menjadi pribadi yang semakin arif dan baik seiring dengan tingginya mileage, toh doa tidak akan menambah massa sepeda. 🙂

Buat saya, berdoa sebelum/saat/setelah bersepeda itu penting. Kita tidak tahu kapan akan terlempar di turunan, kapan ban akan selip saat tikungan, kapan akan menyenggol teman saat ramai-ramai, kapan rantai putus waktu tanjakan, kapan celah di antara dua kendaraan tidak cukup lebar untuk dilalui, kapan jarak cukup untuk mendahului dan memotong kendaraan di depan; atau sekadar memberi kepercayaan diri sehingga kita bisa mengayuh lebih keras, cepat dan lama.

بسم اللّه توكّلت على اللّه, ﻻ حول و ﻻ قوّة اﻻّ باللّه العليّ العظيم
I submit myself to God, as there is neither power nor might except within God

Ini selebaran (resmi) yang dibagikan Bike to Work, isinya tentang undang-undang perlingungan pengendara sepeda, tips bersepeda (ke tempat kerja) yang aman, isyarat-isyarat dan lainnya. Aku sih cuma scan dan pasang di sini (ngebanyakin isi blog, hehe).





(klik untuk melihat dengan ukuran lebih besar dari picasaweb)

Dari dulu banyak orang yang bilang cara saya mengemudikan sepeda itu ‘sembrono’, padahal aku pikir itu cuma sekadar ‘agak sedikit cepat dengan jarak yang sedikit sempit’. Mari kita paparkan beberapa poin.

1. Beberapa kali saya mengalami kecelakaan dan menyebabkan kecelakaan (kecil) saat mengendarai sepeda.

Saat saya yang ‘menderita’ kecelakaan kesemuanya adalah kecelakaan tunggal, penyebabnya adalah kesalahan pengamatan medan: jalan berpasir sehingga mengurangi grip ban saat belokan, berada terlalu dekat dengan kendaraan lain sehingga susah terlihat oleh kendaraan yang lain lagi (berbeda dengan yang ‘lain’ yang pertama 😀 ).

Ada juga kecelakaan tunggal karena iseng sendiri, tapi saat itu kondisi jalan benar-benar sepi atau saya sedang berada di bahu jalan, aku pinggir tidak akan membayakan pengendara lain. Pernah juga dikarenakan malfungsi peralatan, tapi kecelakaan saat itu segera berlalu karena ‘korban’ dapat memaklumi (waktu itu cleat macet).

Saat saya menjadi sebab kecelakaan, seingat saya cuma 2 kejadian:
– saya menyenggol payung anak kecil yang sedang jalan di bahu jalan karena grip ban yang sudah aus (aku bener-bener maaf, Dek!),
– pengendara motor jatuh tepat di depan rumah ketika saya belok tajam ke kanan untuk masuk garasi rumah. Menurut saya penyebabnya karena pengemudi motor mengambil jarak yang yang terlalu dekat dengan saya pada bagian kanan lajur (padahal aku sudah memakan lajur dari arah berlawanan, lho!), dan saya tidak sempat memberi isyarat belok karena tepat sebelum itu berpapasan dengan kendaraan dari arah sebaliknya. (hayoo, bisa bayangin ga?)

2. Kelajuan rata-rata saya memang (sedikit) di atas kebanyakan pengendara sepeda di perkotaan.

Sering saya lihat speedometer pengendara motor untuk melihat kecepatan saya (maklum belum beli cyclocomputer), sekitar 30+ kmpj dengan roadbike (or wannabe) dan 20+ kmpj dengan city bike. Dan tidak jarang segera mengambil lajur kanan saat melaju agak cepat.

3. Jarak selebar dua sepeda adalah jarak yang aman untuk mendahului kendaraan lain (menurut saya pribadi, sih).

Jarak selebar 2 menurut saya sudah (lebih dari) cukup untuk mendahului kendaraan lain dengan beda kelajuan tidak kurang dari 5 kmpj (1,4 m/s) di jalan yang lalu-lintasnya tidak lebih kencang dari 40 kmpj. Sebagai contoh dengan angkutan umum (di Malang) tidak lebih panjang dari 7 meter, jadi dalam 5 detik kita dapat mendahuluinya dengan jarak yang cukup (sekitar semeter) untuk bermanuver ke kanan-kiri untuk memosisikan sepeda kembali ke lajur.

Tentunya kendaraan berbeda yang akan didahului memberikan perkiraan yang berbeda tentang jarak dan waktu yang dibutuhkan, jadi semuanya harus sama-sama ‘memberi jalan’.

3. Saya termasuk orang yang peduli dengan ‘agresivitas’ rem.

Rem di sepeda saya selalu saya atur pada pengaturan yang agresif, jarak brakepad dan rim yang sempit, ujung tuas rem mudah dijangkau sehingga memungkinkan memberikan kuasa yang besar pada tuas rem untuk hard-braking. Sering saya menemui pengaturan rem yang ‘asal berhenti’ pada sepeda orang lain, and that’s not nice!

4. Saya ga butuh ‘gaya-gayaan’
Menurutku, bersepeda itu tentang efektivitas, keamanan, dan kenyamanan. Saya ga mau gaya-gaya macam ‘no-hand’ saat dekat dengan kendaraan lain yang jaraknya tidak tidak lebih dari lebar sepeda (atau pakai sepeda doltrap!)

5. Saya berusaha menjaga konsentrasi di jalan.

Menggunakan ponsel saat mengemudi, bercakap-cakap dengan teman yang kebetulan bertemu di jalan—ugh, menurutku bukan tindakan yang baik.

6. Saya tidak pernah berniat menjatuhkan orang lain di jalan.

Pernah saya dipepet pengendara motor yang habis saya dahului (dari kanan). Pengendara motor tersebut nampak tidak terima (baca: tersinggung) dan kembali mendahului saya, namun entah kenapa mengurangi kelajuannya setelah itu. Saya sih yang masih lebih cepat mendahuluinya dari kiri (saat itu jalan sepi sehingga berani ambil dari kiri). Pengendara tersebut memojokkan saya ke bahu jalan sambil berteriak, “Mau apa kamu?!”.

Jujur, saat itu saya terpikir untuk menggoyang kemudi sepeda motornya sehingga pengendara jatuh kemudian saya pukulkan footstep sepeda yang tajam ke wajahnya waktu dia masih meronta kesakitan lepas jatuh dari motor. Tentunya saya urungkan niat buruk tersebut karena tentunya pikiran jahat tersebut bukan tindakan manusiawi.

7. Saya tidak ingin membahayakan pengendara lain.

Jika terjadi kecelakaan, saya berusaha meminimalisir efek dan jumlah korban. Taruhlah korbannya cuma saya dan dengan posisi badan yang benar sehingga hanya luka lecet yang didapat.

Jadi menurut Anda, ‘sembrono’-nya saya sekadar ‘ugal-ugalan’ atau nimble handling and measured speeding?