Saya punya janji kepada seorang teman untuk buat tulisan berkaitan mengenai pengalaman kita menjadi manusia Islam di Indonesia. Diskusinya dimulai dekat dengan kejadian di Surabaya pertengahan Mei kemarin. Setelah kejadian tersebut, kita bisa temukan tulisan mengenai pengalaman pribadi beberapa orang yang dekat dengan pelaku dan korban. Tulisan-tulisan tersebut mengingatkan kita bahwa beberapa orang bisa sendirian dalam kebersamaan.

Surabaya tetap teguh sebagai kota yang besar dan kuat setelah kejadian tersebut, tapi orang-orang yang bersinggungan langsung dengan masalah-masalah ini dan punya jejak pribadi berkaitan masasalah ini tentunya bakal lebih terpengaruh. Kejadian seperti ini baiknya tidak dilupakan dan tetap jadi pembelajaran buat kita semua.

 

Biasanya ada fase “pencarian jati diri” yang semakin kentara di usia remaja dan pos-remaja. Di fase ini, kita mengasosiasikan diri dengan figur, kelompok, dan nilai-nilai yang berkaiatan dengan figur dan kelompok tersebut. Kesempatan ini biasanya juga disertai bagaimana kita mengambil jarak dari figur, kelompok, dan nilai yang sebelumnya telah melingkupi lingkungan terdekat kita, yang struktur (apalagi hikmahnya) belum terjelaskan buat kita. Fase ini memengaruhi orang dengan berbagai kadar: menyangkut latar belakang lingkungan, agama, pendididikan, keluarga, teman, aktivitas dan kegiatan, dan lainnya.

Perlu diingat: pencarian jati diri ini terus berlanjut dengan bentuk yang diharapkan sudah semakin lebih tidak naif. Asosiasi struktural terhadap figur, kelompok, dan nilai (ah, frasanya kepanjangan, aku ganti dengan “lingkungan” aja ya setelah ini) adalah hal yang umum terjadi.

Balik ke ranah pribadi, pengalaman teman yang mengajak diskusi ini di awal-awal dia masuk kuliah:

  • ikut kegiatan diskusi keagamaan dari ajakan teman kos,
  • ikut nimbrung selama setengah tahun,
  • menenui “ajaran yang tidak sesuai”,
  • merasa terguncang secara pribadi,
  • memilih meninggalkan lingkungan tersebut.

Tentunya banyak dari kita yang mengenyam pengalaman seperti ini. Beberapa tetap dekat dengan lingkungan ini atau mengambil bentuk-bentuk lain dalam kedekatannya, beberapa beberapa memilih sekedar berlalu, beberapa memilih menyeberang ke lingkungan yang lain, beberapa memilih untuk menceburkan diri dalam di tengah konstelasi lingkungan-lingkungan ini sementara berusaha tetap relevan di kesemua lingkungan tersebut sembari tetap di lingkungan asalnya sebelum lingkungan-lingkungan baru ini.

Pengalaman saya pribadi agak berantakan, contoh saja dari saya yang usia SD:

  • saya membuat kebohongan mengenai tempat ibadah (agama lain) di utara rumah dan beberapa bentuk najis,
  • saya bertindak emosial di debat mengenai kejadian Bali 2002 setelah menjadi kelompok “pro” di kelas PPKn: mulai dari tidak menyalahkan hingga mencari pembenaran yang tumpul,
  • meringkuk di balik pintu hendak ganti celana dari sarung setelah shalat, dan dikira belum shalat oleh paman saya (??).

Saya tidak mengalami kejadian macam teman saya di masa kuliah. Identitas kegamaan, pendidikan, dan pribadi saya dan lingkungan tempat saya tumbuh sudah campur aduk, seperti: sekretariat organisasi keagamaan di kampus jadi kamar kos anak Teknik yang (relatif) jarang mandi, kita biasa nonton SNSD selepas ngaji habis Maghrib sembari menunggu Isya, yang setelah Isya kita main Dota 2 sampai larut malam. Tentu juga ada beberapa momen di mana ide atau lingkungan lain berkelebat dan beririsan (yang punya kesan lebih puritan) di tempat tersebut, tapi mereka tidak cukup kompleks buat menjelaskan kerunyaman kita saat itu.

 

Mengapa kejadian Surabaya kemarin terjadi? Ndak tahu.
Seberapa serius dampaknya? Ndak tahu.
Siapa-siapa yang terlibat? Ndak tahu.
Apakah bakal ada seperti ini lagi? Ndak tahu.
Lingkungan-lingkungan mana yang bisa jadi terlibat? Ndak tahu.
Kejadian seperti ini apakah buruk? Ndak tahu, tapi bikin banyak orang susah.
Lha koen iki goblok ta yak opo? Ket mau kok “ndak tahu, ndak tahu”?

Sepurane.

 

Keberpengetahuan kita sungguh terbatas, ada kerendahatian dalam ketidaktahuan, namun bukan ketidakmautahuan. Secara kasat mata kita tahu sedikit tentang pengalaman-pengalaman seperti ini, tapi acap kali kita tidak yakin bagaimana menjelaskankan secara bijaksana dan proporsional kepada pihak yang berbeda-beda.

Identitas Islam rasanya cukup terjelaskan [paling tidak] dengan ibadah dasar: syahadat, shalat, zakat, puasa, haji. Tambahan mengenai kedaulatan, menganjurkan kebaikan, melarang keburukan, dan jihad juga menjelaskan identitas Islammu; sebagaimana menyembelih hewan, makan, berangkat sekolah, masuk toilet, tidur, menikah, dan bersenggama.

Identitas Islam itu luhur. Karena kita tidak luhur, yang bisa kita usahakan adalah menjelaskannya dengan tingkah yang setelah kita timbang–kita rasa baik–mendekati keluhuran tersebut. Akan lebih baik kalau pertimbangan tersebut juga luas dan dalam.

 

Hikmahnya?
Kita kurang bergaul saat siap bergaul, beberapa orang apes diajak bergaul saat dia belum siap.
Rukun itu ndak susah, tapi ya tetep perlu diusahakan.

baru sadar kalo comment di wpmu blog UB dimatikan. banyak spam kali, ya?

Cewe cakephttps://engineuring.wordpress.com/2016/03/11/sci-hub-is-a-goal-changing-the-system-is-a-method/

Dan kelakukannyahttps://torrentfreak.com/sci-hub-ordered-to-pay-15-million-in-piracy-damages-170623/

Harapan dia adalah banyak orang bisa baca artikel riset secara gratis, sebagaimana kita tahu kenbanyakan artikel riset akademis/industri diterbitkan oleh penerbit dengan prestise. Prestise di sini kadang diukur dengan impact factor, nama, ongkos penerbitan, citation count, and lainnya. Dari sini kita bisa nyatakan: Alexandra (dan teman-teman) vs penerbit artikel riset. Komentar dari beberapa penerbit (AAP dan ASTM) bernada seperti ini:

“…it has recognized the defendants’ operation for the flagrant and sweeping infringement that it really is and affirmed the critical role of copyright law in furthering scientific research and the public interest.”

“Sci-Hub does not add any value to the scholarly community. It neither fosters scientific advancement nor does it value researchers’ achievements. It is simply a place for someone to go to download stolen content and then leave.”

Kepentingan publik ini seperti apa? Publikasi artikel riset apa harus dilengkapi dengan prestise, citra, dan royalti? Akses dan keterbukaan SciHub juga merupakan hal baik buat orang-orang yang belum tentu scholarly atau sekadar tidak punya cukup uang untuk berlangganan. Pengunjung SciHub tetap ngetem selama webnya ada dan mereka punya ketertarikan dengan topik risetnya. Kerja sama antara peneliti (secara personal) tentunya lebih spesial dibanding research achievement metrics yang digunakan untuk mengukur values itu.

Analogi gvblvk

Ambil contoh loper koran: penerbit butuh cetak sekian oplah untuk menjamin keberlangsungan bisnisnya, ada loper koran yang kurang kerjaan dengan memperbolehkan semua orang (yang tertarik) membaca koran dengan gratis [masalahnya korannya ga jadi lecek dan pola distribusinya begitu luas dan cepat]. Akhirnya tidak banyak orang yang membeli koran, penerbit merugi dan bisa jadi enggan menerbitkan artikel-artikelnya. Penerbit kemudian ternak lele dan bercocok tanam bersama dengan si loper karena sudah tidak ada bisnis koran lagi.

Kalau hendak merujuk lebih ke sisi teknis analogi tadi, modus operandi SciHub cukup bisa diterka: unduh banyak artikel dari penerbit-penerbit dengan proxy berbagai pihak yang bisa mengunduh artikel-artikel riset secara sistemis, tetapkan identifier masing-masing artikel, simpan di server pribadi (kalau taruh CDN bakal lebih runyam rasanya), sebarkan informasi ini ke komunitas-komunitas yang hendak baca artikel. SciHub sebenarnya juga terbantu dengan sistem publikasi dan pengarsipan yang rapi yang dilakukan oleh penerbit-penerbit. Kalau penerbit-penerbit cuma menerbitkan artikel riset dalam bentuk buku seperti zaman dulu, SciHub harus siap-siap memindai artikelnya satu-satu dan SciHub tidak bakal semasif ini.

Yang terkahir, mengapa Alexandra?

Kebanyakan orang yang bermain di acara bajak-bajakan yang bersikap dewasa; entah untuk tujuan altruistik, sekadar cari konten untuk web biar ramai, membangun koleksi pribadi; memilih tetap anonim. Pertimbangannya mulai dari menghindari resiko legal, menjamin keberlangsungan proyek bajak-bajaknya, dan menjaga kesetaraan di komunitasnya. Beberapa institusi memilih untuk mencari celah legal (e.g. citeseer) dengan kerjasama dengan penulis dan penerbit yang lebih terbuka. Alexandra terpampang sebagai pendiri SciHub sementara rekanannya dirujuk anonim di dokumen legal ini. Kadang saya tidak habis pikir apa nyaman kalau nama kita jadi penanda masalah buat orang lain begini.

Saya cuma berdoa semoga dia tetap tegar serta semua orang bisa saling terbuka dan rukun.

Keterkaitannya dengan kita?

Dewasa ini, lingkup akademis semakin ditekan dengan model “publish (at certain places) or perish”. Tridharma Perguruan Tinggi Indonesia mencakup: pengabdian masyarakat, memajukan ilmu pengetahuan, dan diseminasi ilmu pengetahuan. Konflik macam SciHub ini rasanya cuma sekelumit di bagian diseminasi. Intinya, kesarjanaan di Indonesia harusnya tidak bakal habis kalau cuma model penerbitannya tidak begitu modern.

Ceritanya hari ini aku bikin skrip shell (Bash) buat jalankan daemon untuk beberapa user berdeda di gateway lab. Menyadari aku baca ABS belum pernah tamat, harus baca-baca lagi. Hasilnya:

USERS=( byu liyan )
    
    start() {
    for user in ${USERS[@]}
    do
    sudo -u $user transmission-daemon
    done
    }

Hati-hati, Bash itu space-sensitive!

Dari akhir pekan kemarin di Lab. Infokom Elektro lagi beres-beres harddrive di komputer gateway lab. Selain nambah sebiji lagi harddrive buat LVM, ada yang nebeng mindahin file pribadi ke HDD baru (ya, itu aku).

Fotonya:

Setupnya acak-acakan (kabinet di lab juga masih berantakan sehabis pasang switch gigabit-ethernet baru), dengan 2 PSU–yang salah satunya sempat lupa pasang fan-nya (yang ada tulisan “IKI SANGAR”)

Sudah dari paruh terakhir tahun kemarin, kebijakan jalan searah di kawasan Universitas Brawijaya: M.T. Haryono, Panjaitan, Gajahyana (Sumbersari-Betek) masih jadi polemik sampai saat ini. Buktinya masih ada baliho yang menyatakana ketidaksetujuan terhadap kebijakan ini yang dipajang di sepanjang jalan.

Sampai saat ini, ada pengaturan terjadwal: one-way dari pukul 6.00 sampai 18.00, two-way dari pukul 18.00 sampai 6.00. Hal ini tidak mengurangi ketidaksetujuan warga mengenai skema one-way, kalaupun berkurang itu cuma gegara mereka sudah lelah.

Ada pendekatan yang perlu dicoba yang sampai sekarang belum dilakukan Walikota Malang:

  1. undang semua ketua RT, RW, Camat, Lurah, dan tokoh masyarakat setempat ke GOR Polinema. Mereka bakal merasa dihargai kalau diundang langsung oleh Walikota,
  2. buat diskusi terbuka dengan mengedepankan kenapa one-way diterapkan, termasuk berbagai pertimbangan teknis dan ekonomisnya (termasuk juga pengurangan beban terhadap Jembatan Borobudur sisi Timur yang segera ambruk),
  3. benahi infrastuktur, eg: penertiban lalu lintas agar lampu lalu lintas dari arah utara di Jembatan Borobudur sisi timur benar-benar dianggap,
  4. jalan masuk ke Universitas Brawijaya dari gerbang selatan (Soekarno-Hatta) segera dibuka dan semua lampu lalu lintas di perempatan suram ini difungsikan sepenuhnya dengan pewaktuan yang adaptif.

Setelah dari dulu pengen ada parkir sepeda di Elektro (bareng teman-teman angkatan 2008), akhirnya ada juga (walaupun secara teknis parkiran sepedanya agak ‘cacat’, tapi oke aja, deh!

Terima kasih buat semua pihak yang mengusahakan rak parkir sepedanya.

parkir sepeda

Aku menemukan spanduk ini di pintu masuk UB dari selatan.

Umm, angkutan umum masuk kampus ga sepenuhnya bakal bikin runyam, asal dengan beberapa syarat:

  • cacah kendaraan pribadi (terutama mobil) yang parkir di bahu jalan bisa dikurangi secara signifikan,
  • proses perbaikan jalan (pemasangan blok paving) segera selesai,
  • angkutan umum diberi titik-titik ngetem yang telah ditentukan (tidak boleh berhenti di sembarang bahu jalan),
  • tarif angkutan umum bisa dibikin lebih murah, eg: Pemerintah Daerah kasih gaji supir dan jurangan angkutannya.

Kalau mau iseng-sederhana menyikapi wacana ini: 1 mobil yang cuma ditumpangi seorabg parkir di bahu jalan makan tempat 6 m^2, angkot yang ditumpangi 8 orang (biar masih nyaman) tidak makan tempat sama sekali karena terus jalan (kalau ngetem pun cuma sebentar, to?) yang kalau kedelapan orang yang naik angkutan umum naik mobil semua bakal habis 48 m^2 (kalau dibandingkan sama motor habis 16 m^2 kalau 1 motor habis tempat parkir 2 m^2).

Yah, semoga transportasi dan parkir di UB segera jadi lebih baik daripada sekarang ini.