Aku kata
Aku raga
Aku mana…

Aku jiwa yang gemar menidakacuhkan kepantasan berkedok kewarasan.
Sumuk, lemah, disendirikkan

Cahayamu menyeruak gelapku.

Kita bertukar nama,
mengobral waktu, perhatian, dan sayang
merengkuh sakit, mereguk darah

Aku janji yang semoga berarti
Menjelaskan kepala kesederhanaan,
Melewatkan kisah-kisah yang tak usah

—————–
nyontek Gio

Sungkem adalah gestur bersimpuh di hadapan orang yang kita hormati sekaligus kita sayangi dengan bersimpuh di kaki-lutut, membungkukkan tubuh bagian atas dekat dengan paruh tubuh bagian bawah yang kita sungkemi; umumnya Beliau adalah orang tersebut lebih tua.

Sayangnya, sungkem sekarang ini adalah bentuk budaya gestur yang semakin kemari semakin tereduksi. Bentuknya semakin kasual dan kehilangan detail. Entri mengenai sungkem di google cuma berkisar tentang momen lebaran dan pernikahan; bikin geleng-geleng saya yang diajari sungkem gaya Solo waktu kecil (dan Pak B yang ngajari saya, rasa-rasanya).

Sungkem [bisa jadi] adalah bentuk akulturasi dan bersimpuh di kaki orang tua (umumnya Ibu) gaya Hindu, tasyahhud/tahiyyat gaya Islam, dan tentunya gestur afeksi psikologi dasar yang asalnya lebih manusiawi dan universal ketimbang terkait budaya tertentu.
–yang punya teori yang bisa melengkapi dugaan di atas monggo tulis komentar

Sungkem versi textbook yang diajarkan kepada saya begini:

  • Beliau yang disungkemi duduk tegak di atas kursi, dingklik, dipan, atau balai dengan kaki menyentuh lantai/tanah,
  • kita bersimpuh dengan kedua kaki kurang lebih paralel,
  • telapak tangan kita sentuhkan ke betis Beliau dengan jari menghadap ke bawah dengan orientasi horizontal atau turun,
  • sentuhkan kepala ke lutut Beliau,
  • sampaikan sesuatu melalui diammu atau perkataan halus dan suara rendah,
  • ikuti instruksi kalau Beliau menghendaki posisi sedikit diubah,
  • tegakkan badan bagian atas (sebagai pertanda bahwa sungkem sudah selesai) kalau Beliau menyuruhmu.

Nangis berok-berok sampai jarik Ibumu basah itu sifatnya opsional.

Ada beberapa pertimbangan pseudo-teknis yang berkaitan dengan khidmatnya sungkem:

  • tangan dan kepala disentuhkan ke betis dan lutut Beliau: lutut ke bawah adalah bukan lagi aurat buat laki-laki, juga bagian tubuh ini relatif tidak geli sehingga sungkem untuk durasi yang lebih lama bakal nyaman,
  • sebisa mungkin kita letakkan kepala dekat dengan lutut, i.e. menjauhi perut Beliau. Walaupu Beliau meletakkan tangan di atas paha, posisi kepala kita kalau terlalu dekat ke perut bakal membuat kita lebih dekat dengan genital Beliau–which is awkward to lesser or greater degree,
  • sebisa mungkin jangan nangis kalau ada orang lain yang juga hendak sungkem ke Beliau, e.g. keluarga yang gantian sungkem ke Mbah.

All in all, orang-orang tersayang yang kamu hormati tentunya bisa menerima hormatmu apa adanya. Kalau sungkem ya sungkem aja, jaga kerendahhatian dan hormat itu, jaga bentuknya tetap pantas dan khidmat.

Saya punya janji kepada seorang teman untuk buat tulisan berkaitan mengenai pengalaman kita menjadi manusia Islam di Indonesia. Diskusinya dimulai dekat dengan kejadian di Surabaya pertengahan Mei kemarin. Setelah kejadian tersebut, kita bisa temukan tulisan mengenai pengalaman pribadi beberapa orang yang dekat dengan pelaku dan korban. Tulisan-tulisan tersebut mengingatkan kita bahwa beberapa orang bisa sendirian dalam kebersamaan.

Surabaya tetap teguh sebagai kota yang besar dan kuat setelah kejadian tersebut, tapi orang-orang yang bersinggungan langsung dengan masalah-masalah ini dan punya jejak pribadi berkaitan masasalah ini tentunya bakal lebih terpengaruh. Kejadian seperti ini baiknya tidak dilupakan dan tetap jadi pembelajaran buat kita semua.

 

Biasanya ada fase “pencarian jati diri” yang semakin kentara di usia remaja dan pos-remaja. Di fase ini, kita mengasosiasikan diri dengan figur, kelompok, dan nilai-nilai yang berkaiatan dengan figur dan kelompok tersebut. Kesempatan ini biasanya juga disertai bagaimana kita mengambil jarak dari figur, kelompok, dan nilai yang sebelumnya telah melingkupi lingkungan terdekat kita, yang struktur (apalagi hikmahnya) belum terjelaskan buat kita. Fase ini memengaruhi orang dengan berbagai kadar: menyangkut latar belakang lingkungan, agama, pendididikan, keluarga, teman, aktivitas dan kegiatan, dan lainnya.

Perlu diingat: pencarian jati diri ini terus berlanjut dengan bentuk yang diharapkan sudah semakin lebih tidak naif. Asosiasi struktural terhadap figur, kelompok, dan nilai (ah, frasanya kepanjangan, aku ganti dengan “lingkungan” aja ya setelah ini) adalah hal yang umum terjadi.

Balik ke ranah pribadi, pengalaman teman yang mengajak diskusi ini di awal-awal dia masuk kuliah:

  • ikut kegiatan diskusi keagamaan dari ajakan teman kos,
  • ikut nimbrung selama setengah tahun,
  • menenui “ajaran yang tidak sesuai”,
  • merasa terguncang secara pribadi,
  • memilih meninggalkan lingkungan tersebut.

Tentunya banyak dari kita yang mengenyam pengalaman seperti ini. Beberapa tetap dekat dengan lingkungan ini atau mengambil bentuk-bentuk lain dalam kedekatannya, beberapa beberapa memilih sekedar berlalu, beberapa memilih menyeberang ke lingkungan yang lain, beberapa memilih untuk menceburkan diri dalam di tengah konstelasi lingkungan-lingkungan ini sementara berusaha tetap relevan di kesemua lingkungan tersebut sembari tetap di lingkungan asalnya sebelum lingkungan-lingkungan baru ini.

Pengalaman saya pribadi agak berantakan, contoh saja dari saya yang usia SD:

  • saya membuat kebohongan mengenai tempat ibadah (agama lain) di utara rumah dan beberapa bentuk najis,
  • saya bertindak emosial di debat mengenai kejadian Bali 2002 setelah menjadi kelompok “pro” di kelas PPKn: mulai dari tidak menyalahkan hingga mencari pembenaran yang tumpul,
  • meringkuk di balik pintu hendak ganti celana dari sarung setelah shalat, dan dikira belum shalat oleh paman saya (??).

Saya tidak mengalami kejadian macam teman saya di masa kuliah. Identitas kegamaan, pendidikan, dan pribadi saya dan lingkungan tempat saya tumbuh sudah campur aduk, seperti: sekretariat organisasi keagamaan di kampus jadi kamar kos anak Teknik yang (relatif) jarang mandi, kita biasa nonton SNSD selepas ngaji habis Maghrib sembari menunggu Isya, yang setelah Isya kita main Dota 2 sampai larut malam. Tentu juga ada beberapa momen di mana ide atau lingkungan lain berkelebat dan beririsan (yang punya kesan lebih puritan) di tempat tersebut, tapi mereka tidak cukup kompleks buat menjelaskan kerunyaman kita saat itu.

 

Mengapa kejadian Surabaya kemarin terjadi? Ndak tahu.
Seberapa serius dampaknya? Ndak tahu.
Siapa-siapa yang terlibat? Ndak tahu.
Apakah bakal ada seperti ini lagi? Ndak tahu.
Lingkungan-lingkungan mana yang bisa jadi terlibat? Ndak tahu.
Kejadian seperti ini apakah buruk? Ndak tahu, tapi bikin banyak orang susah.
Lha koen iki goblok ta yak opo? Ket mau kok “ndak tahu, ndak tahu”?

Sepurane.

 

Keberpengetahuan kita sungguh terbatas, ada kerendahatian dalam ketidaktahuan, namun bukan ketidakmautahuan. Secara kasat mata kita tahu sedikit tentang pengalaman-pengalaman seperti ini, tapi acap kali kita tidak yakin bagaimana menjelaskankan secara bijaksana dan proporsional kepada pihak yang berbeda-beda.

Identitas Islam rasanya cukup terjelaskan [paling tidak] dengan ibadah dasar: syahadat, shalat, zakat, puasa, haji. Tambahan mengenai kedaulatan, menganjurkan kebaikan, melarang keburukan, dan jihad juga menjelaskan identitas Islammu; sebagaimana menyembelih hewan, makan, berangkat sekolah, masuk toilet, tidur, menikah, dan bersenggama.

Identitas Islam itu luhur. Karena kita tidak luhur, yang bisa kita usahakan adalah menjelaskannya dengan tingkah yang setelah kita timbang–kita rasa baik–mendekati keluhuran tersebut. Akan lebih baik kalau pertimbangan tersebut juga luas dan dalam.

 

Hikmahnya?
Kita kurang bergaul saat siap bergaul, beberapa orang apes diajak bergaul saat dia belum siap.
Rukun itu ndak susah, tapi ya tetep perlu diusahakan.

Muda,
sedikit keblinger, tapi berusaha jujur.
Tatap siluet rembulan yang belum tampak,
mendung.
Cermat-hitung terukur,
cerah.
Kepala tidak lebih dulu dari kaki dan tangan,
payah.
Pasir dan laut,
kayuh.

Gubug doa dan sujud menyambut dengan air,
dan berkumpul.
Lalu air lagi.
Muka gubug doa yang lain membawakan air manis,
dalam kantung,
dingin,
berbumbu senyum ramah.

Kita lalu lemah,
sungguh daya datang dari Tuhan,
Bentuknya api, logam, dan kayu,
bukan congkak dan sombong,
bukan kekuatan dan keberadaan.
Bentuknya pasrah dan terima kasih.

Puji Tuhan, kita masih disambut rumah.

Cewe cakephttps://engineuring.wordpress.com/2016/03/11/sci-hub-is-a-goal-changing-the-system-is-a-method/

Dan kelakukannyahttps://torrentfreak.com/sci-hub-ordered-to-pay-15-million-in-piracy-damages-170623/

Harapan dia adalah banyak orang bisa baca artikel riset secara gratis, sebagaimana kita tahu kenbanyakan artikel riset akademis/industri diterbitkan oleh penerbit dengan prestise. Prestise di sini kadang diukur dengan impact factor, nama, ongkos penerbitan, citation count, and lainnya. Dari sini kita bisa nyatakan: Alexandra (dan teman-teman) vs penerbit artikel riset. Komentar dari beberapa penerbit (AAP dan ASTM) bernada seperti ini:

“…it has recognized the defendants’ operation for the flagrant and sweeping infringement that it really is and affirmed the critical role of copyright law in furthering scientific research and the public interest.”

“Sci-Hub does not add any value to the scholarly community. It neither fosters scientific advancement nor does it value researchers’ achievements. It is simply a place for someone to go to download stolen content and then leave.”

Kepentingan publik ini seperti apa? Publikasi artikel riset apa harus dilengkapi dengan prestise, citra, dan royalti? Akses dan keterbukaan SciHub juga merupakan hal baik buat orang-orang yang belum tentu scholarly atau sekadar tidak punya cukup uang untuk berlangganan. Pengunjung SciHub tetap ngetem selama webnya ada dan mereka punya ketertarikan dengan topik risetnya. Kerja sama antara peneliti (secara personal) tentunya lebih spesial dibanding research achievement metrics yang digunakan untuk mengukur values itu.

Analogi gvblvk

Ambil contoh loper koran: penerbit butuh cetak sekian oplah untuk menjamin keberlangsungan bisnisnya, ada loper koran yang kurang kerjaan dengan memperbolehkan semua orang (yang tertarik) membaca koran dengan gratis [masalahnya korannya ga jadi lecek dan pola distribusinya begitu luas dan cepat]. Akhirnya tidak banyak orang yang membeli koran, penerbit merugi dan bisa jadi enggan menerbitkan artikel-artikelnya. Penerbit kemudian ternak lele dan bercocok tanam bersama dengan si loper karena sudah tidak ada bisnis koran lagi.

Kalau hendak merujuk lebih ke sisi teknis analogi tadi, modus operandi SciHub cukup bisa diterka: unduh banyak artikel dari penerbit-penerbit dengan proxy berbagai pihak yang bisa mengunduh artikel-artikel riset secara sistemis, tetapkan identifier masing-masing artikel, simpan di server pribadi (kalau taruh CDN bakal lebih runyam rasanya), sebarkan informasi ini ke komunitas-komunitas yang hendak baca artikel. SciHub sebenarnya juga terbantu dengan sistem publikasi dan pengarsipan yang rapi yang dilakukan oleh penerbit-penerbit. Kalau penerbit-penerbit cuma menerbitkan artikel riset dalam bentuk buku seperti zaman dulu, SciHub harus siap-siap memindai artikelnya satu-satu dan SciHub tidak bakal semasif ini.

Yang terkahir, mengapa Alexandra?

Kebanyakan orang yang bermain di acara bajak-bajakan yang bersikap dewasa; entah untuk tujuan altruistik, sekadar cari konten untuk web biar ramai, membangun koleksi pribadi; memilih tetap anonim. Pertimbangannya mulai dari menghindari resiko legal, menjamin keberlangsungan proyek bajak-bajaknya, dan menjaga kesetaraan di komunitasnya. Beberapa institusi memilih untuk mencari celah legal (e.g. citeseer) dengan kerjasama dengan penulis dan penerbit yang lebih terbuka. Alexandra terpampang sebagai pendiri SciHub sementara rekanannya dirujuk anonim di dokumen legal ini. Kadang saya tidak habis pikir apa nyaman kalau nama kita jadi penanda masalah buat orang lain begini.

Saya cuma berdoa semoga dia tetap tegar serta semua orang bisa saling terbuka dan rukun.

Keterkaitannya dengan kita?

Dewasa ini, lingkup akademis semakin ditekan dengan model “publish (at certain places) or perish”. Tridharma Perguruan Tinggi Indonesia mencakup: pengabdian masyarakat, memajukan ilmu pengetahuan, dan diseminasi ilmu pengetahuan. Konflik macam SciHub ini rasanya cuma sekelumit di bagian diseminasi. Intinya, kesarjanaan di Indonesia harusnya tidak bakal habis kalau cuma model penerbitannya tidak begitu modern.

Bisikku akan di telingamu.
Teriakku akan di hatimu.

Langkahku menarik keretamu.
Diamku saat cenderung kepadamu, kepadaMu.

Suara dan langkahku bukan sempurna,
tapi kau tahu bagaimana Kau ingin benahi.
Aku dengar Tuhan dari suaramu, dalam diamku.
Aku dengar suaramu di naungan Tuhan yang satu.

Aku dengar Tuhan dalam keputusasaan kita,
saat langkah sudah lelah,
saat suara sudah usang.

Merdeka macam apa yang kamu mau?

 

Saya, sebagai manusia yang mengenyam pendidikan dasar di Indonesia, hapal bahwa tanggal kemerdekaan Indonesia itu 17 Agustus.

Teman dari India sebelah saya yang besar di India bilang tanggal kemerdekaan India itu 15 Agustus. Kawan dari Cina yang sedang rebahan di muka saya, dia punya cerita agak berbeda.

Aku tanya, “What is China’s Independence Day?“, dianya bingung.

Aku tanya lagi, “What is China’s IN-DE-PEN-DENCE day?”, sekiranya artikulasi saya agak kacau seperti biasa.

Dianya tanya balik “I don’t get you; independence from WHAT?

Aku timbali balik, “Like U.S.’: July 4th.

Dia jawab, “Ah, National Day; October 1st.

 

Beberapa negara [merasa] besar secara spiritual merasa tidak pernah dijajah oleh bangsa lain. Sebagai gantinya, “tanggal nasional” itu biasanya adalah momen unifikasi, deklarasi dokumen tertentu, atau apalah; yang menandakan hari di mana pihak yang berperan sebagai pemerintah sudah pegang kuasa atas teritori dan orang-orang di dalamnya. Cina segai negara yang begitu besar dengan sejarah yang panjang, megah, dan dinamis; belum pernah merdeka. Di sudut lain, Indonesia punya, entah ini pertanda baik atau nelongso.

Tanggal tanggal proklamasi buat Indonesia kita sebut sebagai “Hari Kemerdekaan”, “Hari Merdeka Nusa dan Bangsa”, “hari lahirnya bangsa Indonesia”; kita ingat dari lagu nasional “Hari Merdeka” gubahan Husein Mutahar:

Tujuh belas Agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita.

Hari merdeka nusa dan bangsa, hari lahirnya bangsa Indonesia.

Merdeka.

Sekali merdeka tetap merdeka, selama hayat masih di kandung badan.

Kita tetap setia tetap sedia, mempertahankan Indonesia.

Kita tetap setia tetap sedia, membela negara kita.

 

Konsep kemerdekaan yang dibawa lagu nasional satu ini dalam dan bisa jadi barang perbincangan. Toh penafsiran dan apresiasi karya seni juga sah saja dibawa ke mana-mana. Mari kita tinjau secara etimologis sekenanya frasa-frasa mengenai hari kemerdekaan.

  • hari: diambil dari kata matahari, idenya menjelaskan siklus rotasi bumi yang bikin matahari kita tampak timbul tenggelam dengan periode tertentu;
  • lahir: lebih dekat ke mbrojol daripada ndilalah mak mbedunduk. Kelahiran adalah titik di mana berbagai proses di balik layar yang kompleks, runyam, berkepanjangan, dan tak jarang pula, menggunakan lebih banyak sumber daya lahir dan batin; telah membuahkan hasil yang setidaknya bisa ditunjukkan ke khalayak ramai atau paling tidak berdiri atas entitasnya sendiri yang mandiri;
  • merdeka, Kemerdekaan: kita bahas belakangan, ini bahasan pokok tulisan ini yang bakal makan jatah paling banyak;
  • nusa: teritori, tempat kediaman, luasan atau cakupan tanah, air, dan udara yang suatu entitas sosial miliki;
  • bangsa: merujuk ke entitas sosial dalan “nusa” tersebut, biasanyanya berbentuk sekelompok orang yang kumpul-kumpul karena irisan atau gabungan budaya dan etnisitas.

Beberapa ide yang bisa ditarik dari lirik lagunya:

  • bangsa Indonesia belum lahir sebelum tanggal 17 Agustus 1945. Kalau kita buat analogi antara bayi dan negara Indonesia: hari lahir lebih mudah ditentukan. Hari bikin bisa jadi entah yang mana. Kalau mau lebih spiritual: hari ditiupkan roh juga kita mana tahu kapan terjadinya;
  • tanah dan orang Indonesia sekarang punya legitimasi. ini harapan yang agak terlampau optimis di saat itu;
  • teritori Indonesia masih kembang-kempis pasca ; bahkan kemudian agresi militer, Renville, dan caplok balik Papua zaman Trikora.

Bangsa Indoensia itu orang-orang yang mana? Indonesia, sedari dahulu adalah masyrakat yang akseptif dengan berbagai adukan etnis.

 

Tapi catatan tanggal lahir (atau hari jadi) sedari dulu umumnya tidak lebih dari instrumen administratif untuk bikin KTP, SIM; atau alasan buat (biasanya) mesra-mesraan macam ulang tahun orang-orang spesial di sekitar kita atau momen spesial macam peresmian kantor. Tanggal kelahiran boleh banyak punya kegunaan praktis, tapi menjadikan tanggal kelahiran sebagai tanggal bikin adalah tindakan reduksionalis, penyederhanaan yang kadang kelewatan, sehingga kita melupakan kejadian-kejadian penting yang mendahului. Untuk alasan ini kita boleh terima 17 Agustus 1945 jadi “Hari Lahir” Bangsa Indonesia.

Orang-orang Indonesia sudah mengalami banyak hal bahkan sebelum tanggal 17 Agustus 1945: pergerakan politik kenegaraan macam Budi Utomo, Sumpah Pemuda, tanggal Ratu Wilhelmina naik tahta. Lebih dari itu, dan banyak momen penting yang terjadi secara berkesinambungan tanpa catatan tanggal. “Merdeka” itu komemorasi fungsional, bisa dipakai untuk berbagai keperluan.

Tapi sejatinya proses “bikin”, pengejawantahan eksistensi, adalah proses yang lebih esensial. Kita kesulitan saat harus bilang kapan, di mana, dan siapa mengenais proses pengejawantahan tersebut mulai, mencapai marka-marka tertentu, dan berakhir; karena tentunya sejarah, catatan pohon kehidupan bikinan manusia, selalu bias dan terbatas. Biar Tuhan saja lah yang punya catatan lengkap dengan format yang Ia tentukan.

 

Tiap orang lahir merdeka. Sekalinya orang sudah lahir berarti dia sudah merdeka. Budak zaman dulu itu bukan dimerdekakan, tapi dibebaskan. Cuma kepada Tuhan kita tidak merdeka, karena nyawa ini kita boleh sewa.

(Ditulis sambil jagain temen mabok yang tidur di lapangan bekas sekolah yang tutup. Hotaru Kaikan, Nijo, Matsuda-shi, Shimane-ken.)

Kita sering melihat foto makanan diunggah ke jejaring sosial, utamanya menu makanan di restoran. Fenomena ini, disebut foodstagram, tentunya bentuk vanity yang sedikit banyak menidakacuhkan kenyataan bahwa masih banyak orang di lingkungan kita yang bahkan masih kesusahan makan yang layak (apalagi mewah dan menarik). Kesombongan tentunya bukan hal yang patut disebarluaskan.

Bentuk berlebih-lebihan di makanan sudah ditemui dari dulu: termasuk dosa kardinal (bisa jadi campuran antara kerakusan dan kesombongan) dan jadi kawan setan. Salah satu bentuknya bisa ditemui saat baguette dibuat panjang-panjangan oleh kelompok bangsawan yang lupa kondisi petani yang makan juga susah.

Lalu apa mengambil foto makanan sama sekali kegiatan yang tanpa tujuan? Jawabannya adalah “tidak”, masih ada beberapa foto (atau kegiatan memfoto) makanan yang menurut saya masih baik-baik:

  • endorsement: foto makanan sebagai etiket di kemasan (contoh: mie instan) atau reklame di muka warung (contoh: pecel lele) tentunya layak. Kalau kita memfoto makan pesanan dari restoran dan kita merekomendasikan ke kerabat tentunya boleh saja difoto,
  • ngajak makan: foto hasil masakan untuk kemudian mengajak makan teman dan kerabat adalah bentuk keramahan yang teramat mulia, apalagi kalau yang diajak adalah mahasiswa seret macam saya,
  • resep makanan: masakan Bu Sisca Soewitomo adalah sebagian dari identitas kuliner Nusantara, cuplikan dari khasanah kuliner tentunya berharga. Makanan di festival kuliner bisa masuk kategori ini asal diliput secara tepat dan tidak berlebih-lebihan.

Kesimpulannya: makanan itu baiknya tidak jadi ajang kesombongan. Katakan tidak untuk foodstagram! Wedding cake yang dibuat berlebih-lebihan juga tidak baik!

Dari community channel: [youtube]https://www.youtube.com/watch?v=t5NmmdUbI3Q[/youtube]

Pasangan itu:

melihat dengan iba,
memandang dengan kagum;

saling memanipulasi,
tapi berniat untuk tidak saling menghancurkan;

merasakan suka, kadang memaksakan suka,
menjalani duka;

bergoyang utara dan selatan dari sumber daya yang sama;
merintangi halangan antara barat dan timur untuk tujuan yang kurang lebih sama.

Sekarang kau hanya terduduk lelah,
bersakit-sakit merengkuh tugas demi tugas yang harus segera purna.
Dan kau melihat orang-orang, kawan-kawan barumu, mengerjakan hal lain,
dengan begitu lihai dan tampak begitu “menjiwai”.
Sesaat itu pula terbersit rasa iri,
“Apa aku cukup baik untuk berada di sini?”

Sadarlah bahwa bahkan di hutan yang sama,
ada semut, ada nyamuk, ada kadal, ada ular, ada ikan, ada rubah, ada banteng.
Kadang mereka sama saja,
tapi mereka sejatinya sama,
asal mereka bertingkah baik segalanya baik-baik saja.

Sadarlah bahwa di kandang yang sama,
ada kenari jantan dan betina,
ada telur yang dierami kenari betina,
ada telur yang dimakan kenari jantan,
ada anak burung yang besar dan kecil,
padahal usia mereka cuma beda 2 menit.

Kayamu adalah kayamu, kayaku adalah kayaku.
Karena mengambil hak orang lain adalah sekacau-kacaunya penghasilan.
Karena selamban-lambannya orang berlari,
dia sudah cukup mahir berdiri.

Kau harus terima apa yang Tuhan beri sekarang,
agar kau bisa belajar untuk tetap rendah hati saat Tuhan memberimu yang lebih baik,
agar kau bisa belajar untuk tidak mengemis saat Tuhan memberimu tidak sebanyak sekarang,
agar kau sadar kau itu apa yang Tuhan beri.
Dan cuma kepada Tuhan kita boleh mengemis.