Jodoh itu (buat saya) bukan masalah cocok-tidak-cocok, berbagai kriteria, chemistry, atau apalah. Bukan berarti hal-hal tersebut tidak penting dan bukan faktor yang membentuk pranata hubungan interpersonal ini, tapi sungguh saya tidak mau melangkahi siapa yang Tuhan (dan orang tua) berkenan. Saya berkenan mengarungi kacau balau ala kadarnya, memaksa kekacaubalauan, memaksa kealakadarannya. Saya tidak memilih untuk bersama “siapa yang bagaimana”, tapi menerima untuk menemani “bagaimana yang siapa-siapa”.

I am willing to ride a hardtail for a quick stroll to grocery.
I am willing to ride a road bike for a venture off the road.
…but I might need to change the tire.

I might not be good with full-susp, but I can learn to ride one.
I love riding uphill, enjoying the hard breathing, lactate acid kicking in, but that may not be as important.
I go stupid going downhill. I may not know the best line, but I try to be responsible when I pick my line.

It might be a vintage randonneur frame that I abuse on daily basis,
but I’ll take care of her so that we can still ride together…
or, to put simply, abuse her more… further down the road. 

Bapak Johan Musseuw, Singa Flanders (bayangin ada atlet yang napak tilas Jendral Besar Soedirman, terus kau ganti latarnya ke Perang Dunia I gitu), bilang: crashing is part of cycling as crying is part of love. Saya bilang: kalau kita belum nangis bareng, kita belum sepedaan bareng, baru habis itu kita jatuh bareng.