Seketika engkau dapat dengan bangga mengayun pisau besar itu
untuk membuka jejak baru di hutan,
engkau berpikir: aku dapat mengayun pisau-pisau lainnya,
atau setidaknya sudah cukup luhur untuk belajar cara mengayun yang indah.
begitu pula pedang,
begitu pula kapak,
begitu pula bayonet.

Esoknya engkau datang ke pandai besi,
dan kamu sadar kau belum cukup pandai.
Kau bahkan tak tahu bagaimana lelah mengasah logam-logam itu.
Kau sadar tajam tak selalu menarik.

Bahkan esoknya kau masih menyumpahserapahi pecahan kaca kecil yang menusuk telapak kaki kananmu.

Tajam itu selalu pengorbanan.