Sudah dari paruh terakhir tahun kemarin, kebijakan jalan searah di kawasan Universitas Brawijaya: M.T. Haryono, Panjaitan, Gajahyana (Sumbersari-Betek) masih jadi polemik sampai saat ini. Buktinya masih ada baliho yang menyatakana ketidaksetujuan terhadap kebijakan ini yang dipajang di sepanjang jalan.

Sampai saat ini, ada pengaturan terjadwal: one-way dari pukul 6.00 sampai 18.00, two-way dari pukul 18.00 sampai 6.00. Hal ini tidak mengurangi ketidaksetujuan warga mengenai skema one-way, kalaupun berkurang itu cuma gegara mereka sudah lelah.

Ada pendekatan yang perlu dicoba yang sampai sekarang belum dilakukan Walikota Malang:

  1. undang semua ketua RT, RW, Camat, Lurah, dan tokoh masyarakat setempat ke GOR Polinema. Mereka bakal merasa dihargai kalau diundang langsung oleh Walikota,
  2. buat diskusi terbuka dengan mengedepankan kenapa one-way diterapkan, termasuk berbagai pertimbangan teknis dan ekonomisnya (termasuk juga pengurangan beban terhadap Jembatan Borobudur sisi Timur yang segera ambruk),
  3. benahi infrastuktur, eg: penertiban lalu lintas agar lampu lalu lintas dari arah utara di Jembatan Borobudur sisi timur benar-benar dianggap,
  4. jalan masuk ke Universitas Brawijaya dari gerbang selatan (Soekarno-Hatta) segera dibuka dan semua lampu lalu lintas di perempatan suram ini difungsikan sepenuhnya dengan pewaktuan yang adaptif.