Sudah dari dulu banget pengen post ini, tapi ga jadi-jadi. Certitanya tentang tiang listrik yang sekarang sudah ga ada.

IMG_20121231_091138
Tiang listrik lama di pertigaan Teknik-Hukum-FIA (depan Himpunan Mahasiswa Teknik Industri).

Memang tiang listrik ini agak ngaco, guy wire-nya nylenthang ke barat dan mengambat pengendara yang mau belok kiri dari arah selatan. Posisinya juga (agak) ke tengah jalan tanpa tanda marka jalan (dulu ada rambu kalau ga salah, tapi rusak). Dilengkapi dengan lubang selokan di bawahnya yang menyebabkan lubang di tengah aspal menganga (dijejali bangku panjang di gambar ini).

Nah, mencerminkan seberapa kacaunya percencanaan pembangunan di kampus, karena tiang ini baru dihilangkan setelah 4+ tahun aku kuliah (ga tahu sebelum itu sudah seberapa lama).

Alhamdulillah, sekarang tiang dari samping gedung Pasca Sarjana FIA sudah langsung ke rumah trafo di depan Himpunan Teknik Industri dan ke Ekonomi.

Objektivisme di sini bukan bagaimana bertindak secara objektif: tidak memihak, adil, dan tidak terpengaruh kepentingan pribadi yang punya implikasi negatif terhadap permasalahannya.

Objektivisme yang aku maksud adalah bagaimana waktu seseorang menganggap orang lain sebagai objek dari perasaan atau pikiran tertentu. Kali ini objeknya adalah perempuan kebanyakan belakang ini.

Kejadiannya belakangan ini ada konvergensi modus fashion banyak perempuan untuk tampil menarik dan cantik (utamanya dengan warna kulit cerah), tujuannya secara singkat adalah untuk mendapatkan kepercayaan diri dan berada pada lingkup tingkat kecantikan (blah!) yang setara dengan perempuan yang lain di lingkungannya.

Modusnya bisa dilihat mulai dari berjamurnya whitening cream pagi-siang-sore-malam (kaya jadwal makan aja), banyak dibukanya beauty clinic, aesthetic center, skincare clinic, dan model pakaian yang memaparkan lebih banyak luasan kulit ke udara terbuka (di tempat umum). Dengan fenomena ini, lebih banyak uang dan waktu yang dihabiskan perempuan dalam upaya mengusahakan dirinya terlihat (katanya) lebih cantik.

Nah, kasihannya: di lain pihak laki-laki menganggap kebanyakan perempuan yang merupakan praktisi modus tersebut adalah objek seksual to a certain degree; bukan menganggap mereka sebagai pribadi mandiri dengan kepribadiannya sendiri yang unik dan menarik. Fenomena konvergensinya malah memperparah keadaan: kebanyakan perempuan tampak sebagai “mainan” yang diproduksi secara massal, yang tentunya menguatkan objektivisme yang terjadi.
—paragraf ini kok kerasa jahat banget, sih!

Masalah objektivisme ini bisa berujung di hilangnya identitas sosial masyarakat yang madani secara seksual. Sebuah tabloid lokal mengutipnya dengan menarik kemarin: “Ya Allah, sisakan perawan untuk generasi kami”. Hal ini (kalau sampai terjadi) disebabkan karena laki-laki dengan objektivisme menganggap perempuan sebagai objek gratifikasi seksual dan perempuan membuat kondisi di mana objektivisme tumbuh subur.
—in my honest oppinion: ‘virginity’ itu ga terlalu penting, yang jauh lebih penting itu ‘chastity’

Solusi objektivisme ini secara garis besar ada satu (dengan dua kondisi): perempuan berpikir lebih dalam lagi bagaimana seharusnya mereka tampil di publik dan laki-laki belajar lebih menghargai perempuan di sekitarnya; toh perempuan di luaran itu gender yang sama dengan Ibu.

———-
Fashion-ku itu komputer, sepeda, elektronika; tentunya ga mainstream kalau jadi objek seksual buat cewe-cewe.