Aku tergugah membahas tetang seksisme (sexism) setelah ramai riuh gegara Peter Sagan menyentuh pinggul Maja Leye di podium Tour of Flanders tahun ini. Ada bermacam reaksi: mulai dari yang keras menyatakan bahwa perlakuan seperti itu ialah sexual harassment di tempat kerja, ada yang menyatakan bahwa tindakan seperti ini adalah faktor penghambat kemajuan olahraga buat perempuan, aspirasi bahwa ketidakperluan lagi adanya double kiss di podium buat pemenang etape; sampai fans yang mengunggah foto mereka saling menyentuh pantat satu sama lain. Yang pasti Peter sudah segera meminta maaf dengan baik-baik, formal dan terbuka.

Di balik kejadian seksisme macam ini, sebetulnya seksisme yang patriarki adalah sesuatu yang “tradisional” sehigga mudah ditemukan di berbagai macam budaya, antara lain:
– di Indonesia, istri sering dipanggil dengan “Bu” diikuti nama suaminya sebagai panggilan formal,
– di Eropa (termasuk Amerika, Australia, dan Afrika Selatan) dan Asia Timur, istri setelah menikah menggunakan nama belakang suaminya sebagai ganti nama ayahnya,
– banyak undang-undang emansipasi yang (malah) menentukan batas minimal keikutsertaan perempuan di bidang politik praktis.

Menurut pendapatku, perbedaan gender cuma sebuah variabel yang menjadi kendala (constraint) buat seseorang, sama seperti status finansial, agama, lingkungan geografis maupun sosiologis, akses terhadap teknologi; sehingga pengaruh gender terhadap peran manusia di masyarakat adalah biasa biar pun buruk atau baik pengaruhnya.

Jadi marilah kita memandang seksisme, emansipasi, atau apalah lebih sederhana:
– olahraga buat perempuan tidak berkembang lebih daripada laki-laki karena faktor fisiologis yang menyebabkan perempuan tidak lebih olympian,
– jumlah partisipasi perempuan di bidang politik formal tidak besar disebabkan mereka tidak daftar lebih banyak di KPU.

Cuma ada beberapa hal menyangkut seksisme yang menbuatku kurang nyaman:
– penggunaan nama suami pasca pernikahan itu berlebihan–bagaimanapun seorang perempuan itu tetap anak ayahnya mau belum menikah, bersuami, atau bercerai,
fashion buat perempuan kadang terlalu vulgar. Tidak jarang aku bisa mencium bau parfum bahkan 20 detik setelah seorang ‘mbak-mbak’ lewat atau saat drafting dengan sepeda dengan jarang 3 meter di kecepatan 40 km/jam. Dan ada baiknya pakaian yang dikenakan bukan cuma sekadar nyaman dan menarik, tapi juga mencerminkan kepribadian pemakainya–kalau aku sih ga ngerti fashion.

Lagipula tulisan ini moot, aku menyebut gender dengan pasangan kromosom XX dengan “perempuan”.

Selamat Hari Kartini!

__________
Anyway, selamat buat Cancellara yang menang Flanders dan Roubaix tahun ini.