Rocks adalah distribusi sistem operasi Linux yang digunakan untuk membangus cluster komputer kelas beowulf. Distro ini merupakan turunan CentOS sehingga masih serumpun dengan Fedora, RHEL dan teman-temannya.

rocks

Distro ini dilengkapi berbagai utilitas manajemen cluster, terutama insert-ether untuk menambah node cluster dan rocks yang berwujub skrip python yang digunakan untuk melakukan berbagai aktivitas manajemen cluster. Ada juga ganglia untuk monitor aktivitas cpu, memori dari front-end dan tiap-tiap node.

Karena keterbatasan perangkat keras, clusternya malah diimplemtasikan di virtual machine. Jadinya ga ada peningkatan performa, adanya overhead gara-gara scheduling dan emulasi di KVM-QEMU, duh. 🙁

Laporan implementasi bisa disimak di kaitan ini: Cluster dengan Rocks Cluster

Proxmox VE adalah distribusi sistem operasi [GNU/]Linux derivat dari Debian yang memfokuskan penggunaanya sebagai host virtual machine. Kita diberi dua pilihan hipervisor: [qemu-]KVM untuk virtualisasi sampai level abstraksi prosesor, atau OpenVZ yang berbasis kontainer (jadi pilihan bagus kalau node virtual machinenya berbasis Linux dan mirip-mirip).

proxmox

Perangkat keras yang diperlukan mewajibkan prosesor dengan akselerasi virtualisasi (Intel VMX atau AMD VI/VT, atau apalah). Sempat dicoba di bare metal macam IBM X3650 M3 dengan performa yang memuaskan.

Kelebihan distro ini adalah ukuran instalasi yang kecil, setup yang mudah dan cepat, manajemen berbasis web yang intuitif.

Kelemahannya berada di manajemen partisi pra-install yang sudah ditetapkan (baca: tidak disarankan untuk dikustomisasi), manajemen jaringan host virtual machine yang kurang dinamis untuk operasi on the fly, dan model snapshot node virtual machine yang kadang tidak berjalan semestinya.

Tapi secara keseluruhan: wajib dicoba kalau mau main vm.

Berikut laporan dari saya main-main: Virtual Machine dengan Proxmox.