Belakangan ini di televisi banyak ditayangkan teh instan dalam kemasan botol bermerk Mirai dari SUNTORY.
Lalu apa?

Kejadian seperti ini tidak nyaman buatku, yang mana Indonesia juga punya signature sendiri dalam dunia pertehan dengan teh melati (kita bilang teh tarik itu punya Malaysia, deh). Aku takut juga pabrik teh nasional yang sudah besar (eg: Sosro) di kemudian hari harus kalah bersaing dengan perusahaan multinasional yang lebih besar di bisnis minuman instan di negeri sendiri, duh!
–kalau Sosro kelimpungan bagaimana dengan perusahaan teh industri rumah tangga macam Teh Cap Naga?

Aku bangga dengan teh melati yang sering aku minum sejak kecil: dari yang begitu manis, yang manis, yang cuma menggunakan sejumput gula, atau tanpa gula.
–juga mengutarakan kekurangsukaanku terhadap teh hijau yang menurutku rasanya seperti pacar kuku, hehehe

Masuknya produk impor seperti adalah bentuk kapitalisme: volume produksi bukan ditentukan sesuai kebutuhan konsumen, namun ditentukan oleh jumlah yang diperlukan untuk mendominasi pasar dan memberbesar keuntungan perusahaan; dengan kurang memedulikan kebutuhan konsumer sebenarnya (kita anggap saja globalisasi adalah idealisme baik-baik yang cuma mempertemukan budaya satu sama lain dan tidak bersalah di sini). Baiknya volume produksi dioptimalkan dengan batasan antara kebutuhan konsumen dan kemampuan produksi sehingga tidak menggunakan sumber daya (alam) yang sebetulnya tidak benar-benar perlu.

Dan, “ya!”, keteknikan (engineering) dalam bentuk idealnya adalah buah ideologi sosialis karena mengutamakan kepentingan masyarakat bersama!

Karena di lab baru migrasi server, data masing-masing user di /home dipindahkan terus bikin user baru di server baru. Masukkan masing-masing user sesuai group (berkaitan dengan hak akses) harus dilakuin satu-satu biar ga bentrok sama konfigurasi yang lama.

usermod -a -G wheel liyan
wheel nama groupnya, liyan nama usernya

Lebih elegan ketimbang harus edit /etc/group di baris buat group wheel
wheel:x:10:liyan
dari sebelumnya cuma
wheel:x:10: