Setelah lama memendam (sedikit) rasa iri sama orang-orang yang laptopnya dipasangin desktop manager KDE atau Gnome yang aplikasi Bluetooth-nya berjalan dengan baik, dan koherensi instlasi paket di Slackware (dan turunan) yang ga pernah jelas dari dulu–akhirnya saya bisa pakai Bluetooth dengan mudah dan nyaman di Salix64 13.37.

Sederhana saja, sih (tapi kok dari dulu ga kelar-kelar, ya? 😀 ), kita hanya perlu memastikan bahwa perangkat keras adapter Bluetooth dikenali dengan baik oleh kernel, instalasi beberapa paket termasuk aplikasi GUI yang memudahkan penggunaan, soalnya ga bakal nyaman kalau tiap mau pairing harus hciconfig, hcitool. atau waktu kirim-terima file harus obexls, obexget, obexput.

Beruntungnya, Salix64 13.37 (kernel 2.6.37.6–lama banget, yak?) dari awal sudah mengenali adapter Bluetooth Widcomm yang tertanam di senjata saya (Aspire 4720z), begitu tombol adapter ditekan langsung ada LED warna biru menyala dan interface terbaca dari hciconfig.

Langkah selanjutnya instalasi paket-paket, semuanya aku ambil dari Slackware64 13.37. Paket-paketnya antara lain:
- blueman-r708,
- bluez-firmware-1.2,
- bluez-hcidump-2.0,
- bluez-4.91,
- obex-data-server-0.4.5-x86_64-2
- obexfs-0.12,
- obexftp-0.23-x86_64-5
- openobex-1.5

Atur rc.bluetooth sehingga bisa dieksekusi dengan chmod +x /etc/rc.d/rc.bluetooth agar bluetoothd (milik bluez) dapat berkomunikasi dengan dbus (yang aku belum paham mekanismenya gimana, hehe)

Setelah itu tinggal reboot, nyalakan adapter Bluetooth, jalankan blueman-applet, nanti bakal muncul icon Bluetooth di tray. Enjoy!

Langsung ke inti pembicaraan, maksud judul yang kutulis adalah: sepedaku adalah pacarku. Bukan berarti aku akan menikah dengan sepeda, tapi mencurahkan hasrat pada sepeda walau kita bukan pemancal profesional.
–jomblo detected

Ada beberapa poin dari sepeda yang kita harapkan dari ‘pacar’ ideal, mari paparkan satu demi satu.

1. Setia
Sepeda tidak berselingkuh, dia akan tetap bersama pemiliknya–kecuali dipinjam dengan atau tanpa izin pemiliknya (baca: dicuri).

2. Diajak jalan ke mana juga mau
Sepeda pergi bersama-sama ke mana kamu mengayuh. Kalau kamu gowes ke gunung dia ikut nemenin ke gunung, kalau gowes ke pantai dia nemenin ke pantai, gowes ke kampus nemenin ke kampus, ke kantor, ke rumah, ke pasar, juga nemenin.

3. Senang-sakit direngkuh bersama
Waktu tanjakan, turunan, jalan raya, nge-sprint, jump, drop, hop, bahkan ketika jatuh; sepeda menemani kita.

4. Cakep
Semakin banyak kita investasi pada parts yang nice dan melakukan perawatan rutin, sepeda bakal makin nyaman dikendarai dan sedap dipandang (apalagi lihat framesetnya Pina Kobh–cakep banget menurutku)

5. Ga materialistis
Sepeda ga pernah rewel: ngajak belanja, ngajak nonton, ngajak jalan-jalan. Yang ada sih pemiliknya khilaf beli komponen mahal habis dikomporin temen, hehe.

6. Ga gengsi–sok jaga image
Sekeren apapun sepedamu, ga bakal ngerusak image kalau kamu pakai ke pasar buat beli sayur (tapi paling sangkil pakai sepeda keranjang, to?). Dan sejelek apapun sepedamu, asal layak jalan, ga menghalangi kamu makan di restoran (kecuali ga ada tempat parkir yang bisa disisipi sepeda)

Kesimpulannya: orang yang naik sepeda bisa jadi jomblo–tapi ga pernah sendirian.

____
PS: pernah waktu aku bertamu ke rumah ‘teman perempuan’–Mei, sepedaku yang kutaruh di teras jatuh kena angin. Aku ga sengaja teriak, “Aduh, pacarku jatuh!” di depan Mei dan ayahnya. Suasana terasa aneh untuk beberapa waktu sampai aku mengangkat sepedaku dan memarkirnya kembali. LOL

Waktu itu ada yang bilang begini sama aku, “Kita itu kuliah buat kerja, kerja cari uang, beli ini-itu, menikah” saat acara makan bersama dari anggota laboratorium tempat saya ‘bermain’. Di kesempatan lain beliau (orang yang sama) mengomentari keinginan hidup saya: tentang bekerja sebagai engineer (beneran), earning money from certain–specific purposes, and such.

Beliau juga mengatakan tentang bagaimana kita harus patuh terhadap prosedur kerja, walaupun beberapa bumbu inovasi kecil mungkin dapat membuat hal-hal menjadi lebih menarik. Juga kutipannya berbicara mengutip managernya, “Kamu ga kerja di sini juga kita ga bakal rugi.”

Kutipan terakhir tersebut membuat saya (sedikit) sakit hati. Menurutku setiap orang dengan kondisinya masing-masing, kelebihan dan kekurangan masing-masing, mempunyai tempat spesialnya masing-masing. Pencapaian setiap orang tidak harus sama, bahkan harus tidak sama. Lingkungan kita bekerja (nanti) harusnya menghargai kita semestinya, tidak hanya dengan upah yang sesuai, namun juga penghargaan saat kita melakukan sesuatu buat mereka (dan diri kita sendiri) dan koreksi saat kita membuat kekeliruan.

Kerja buatku tidak hanya sekadar mendapat penghasilan, namun juga mengembangkan diri, mengeksplorasi kemampuan dan kemungkinan, mencari rekan dan menjaga kerpercayaan yang diberikan. Kalau kamu?

Waktu: Itu, Kini, Nanti
Hidup: Jiwa atau Nyawa

Masa kita belum terluka karena daun dan biluh bambu,
masa kita pikir bentangan laut itu biru,
masa kita rewel dengan jalan berbatu,
masa kita rasa resah dan ragu adalah ketidakpunyaan, bukan ketidakbisaan dan dilema.

Kalau kamu tanya mengapa masa itu selesai, jawabku
“Kita tumbuh, kita berkembang,
kita jatuh, kita terluka,
kita pulih, kita pupus”
“Karena masa adalah finit dan berbatas,
karena masa adalah nisbi,
karena masa adalah tidak abadi”

Aku yakin hidup ini bukan cuma sekuel
buat menampilkan cerita atau apa,
buat memesona orang-orang,
buat memenuhi keinginan ini dan itu,

yang terpotong di sana-sini untuk menunjukkan pentingnya bagian-bagiannya.
Hidup ini utuh, dari cercah hingga pupus.

Hidup ini:
berserah, patuh, menghiasi diri,
berbuat baik, berkata baik, berpikiran baik,
menyadari keliru dan salah,
berserah, patuh, menghiasi diri,
berbuat baik, berkata baik, berpikiran baik,
menyadari keliru dan salah,
berserah, patuh, menghiasi diri,
berbuat baik, berkata baik, berpikiran baik,
menyadari keliru dan salah,

Hidup ini utuh, dari cercah hingga pupus.


Dewasa?
Cacah hitungan revolusi terhadap surya melampaui jumlah tertentu,
atau hukum yang mengenaimu telah berganti,
atau sekadar tindakmu lebih rasional ketimbang menjunjung mimpi dan harap.

Kita selalu kita,
entah menangis, entah tertawa, entah tersenyum, entah diam.
Tidak ada yang benar-benar berganti,
lingkunganmu hanya berubah.

Lakukan apa-apa yang kamu perlu lakukan,
ingat apa yang kamu lakukan baik,
ingat apa yang kamu lakukan berantakan,
ingat apa yang kamu lakukan keliru,
pikirkan, renungkan,
lakukan lebih baik,
hingga pupusmu.

___
ditulis pakai Geany, dini hari tadi
makasih buat Bayu yang mau bikinin tipografinya (aku kopok lek ngenean)