Spiritualisme dalam Bersepeda

Buat tiap orang bersepeda adalah pengalaman dan alasan yang berbeda. Bersepeda bisa jadi olahraga, (alternatif) transportasi, gaya hidup, profesi, atau sekadar mengikuti tren/gaya. Tapi lebih jauh dari itu, beberapa orang merasakan bersepeda adalah sebagian dari pengalaman spiritualisme.

Bukan sedikit kita lihat atlet di Grand Tour yang mengenakan kalung rosary, berdoa kemudian menyilangkan tangan antara bahu saat start, atau mengangkat tangan ke langit saat memengangkan etape untuk menghormati rekannya yang meninggal.
–RIP: Castarelli, Weylandt

–sayangnya di RB Road Rage atau Rampage biasanya bukan doa tapi kata-kata kotor dibarengi acungan jari tengah, duh. Ga bisa disalahkan juga, sih.

Kadang saat kita begitu lelah dan badan tidak lagi bisa diajak kompromi: kita tidak bisa mengatur ritme nafas dan kayuhan, pandangan kehilangan fokus, pusing di kepala dan sebagainya; kita sadar badan ini bukan milik kita–badan kita milik Tuhan.

Lebih ekstrem lagi, saat kita mengalami kecelakaan, entah itu ditabrak/menabrak, terpelating, tersenggol, terbentur, malfungsi rem, terantuk lubang/gundukan, terpeleset, dan sebagainya; kemudian jatuh tergeletak tidak berdaya–harusnya kita sadar bahkan nyawa ini hanya titipan, selebihnya milik Tuhan.

Terlepas dari agama yang dianut, melibatkan aspek spiritualisme dalam bersepeda tentunya hal yang baik. Kita akan menjadi pribadi yang semakin arif dan baik seiring dengan tingginya mileage, toh doa tidak akan menambah massa sepeda. 🙂

Buat saya, berdoa sebelum/saat/setelah bersepeda itu penting. Kita tidak tahu kapan akan terlempar di turunan, kapan ban akan selip saat tikungan, kapan akan menyenggol teman saat ramai-ramai, kapan rantai putus waktu tanjakan, kapan celah di antara dua kendaraan tidak cukup lebar untuk dilalui, kapan jarak cukup untuk mendahului dan memotong kendaraan di depan; atau sekadar memberi kepercayaan diri sehingga kita bisa mengayuh lebih keras, cepat dan lama.

بسم اللّه توكّلت على اللّه, ﻻ حول و ﻻ قوّة اﻻّ باللّه العليّ العظيم
I submit myself to God, as there is neither power nor might except within God

Sebetulnya sudah cukup lama aku mau post hal ini, tapi urung karena sebab-sebab yang kurang jelas.

“ASD” (a-es-de) dari dahulu (sebelum perubahan kurikulum di Elektro) sudah menjadi singkatan untuk dua mata kuliah berbeda:
– Algoritma dan Struktur Data,
– Analisis Sistem Daya (I dan II).
Nah, begitu pula candaan: **Algoritma Sistem Daya** (lol). Sementara "Analisis Struktur Data" adalah frasa yang cukup logis sehingga tidak jadi bahan candaan.

Sejak kurikulum baru diterapkan, hal yang lebih aneh terjadi:

“Artifisial Sistem Daya”, oh no! Nama matakuliah aslinya adalah “Artificial Intelligent dalam Sistem Daya”, tapi kalau ditulis setengah hati gini kok jadi lucu, yak.