Ini selebaran (resmi) yang dibagikan Bike to Work, isinya tentang undang-undang perlingungan pengendara sepeda, tips bersepeda (ke tempat kerja) yang aman, isyarat-isyarat dan lainnya. Aku sih cuma scan dan pasang di sini (ngebanyakin isi blog, hehe).





(klik untuk melihat dengan ukuran lebih besar dari picasaweb)

Menambahi post sebelumnya tentang poster yang salah pilih kata, kali ini konteksnya kurang ‘makcep’


Kali ini tulisannya “Keep Silent”, poster yang ini sudah ditempel sejak sebelum UAS (tapi aku kurang tahu kapan)

Bukan maksudku minta ini-itu, tapi kalau dicermati artinya silent itu hening. Berarti diskusi baik-baik di depan ruangan kelas sambil nunggu dosen semacam dilarang, dong? Keep Quiet (Tetaplah tenang!) sepertinya lebih proporsional, yak!

Dari dulu banyak orang yang bilang cara saya mengemudikan sepeda itu ‘sembrono’, padahal aku pikir itu cuma sekadar ‘agak sedikit cepat dengan jarak yang sedikit sempit’. Mari kita paparkan beberapa poin.

1. Beberapa kali saya mengalami kecelakaan dan menyebabkan kecelakaan (kecil) saat mengendarai sepeda.

Saat saya yang ‘menderita’ kecelakaan kesemuanya adalah kecelakaan tunggal, penyebabnya adalah kesalahan pengamatan medan: jalan berpasir sehingga mengurangi grip ban saat belokan, berada terlalu dekat dengan kendaraan lain sehingga susah terlihat oleh kendaraan yang lain lagi (berbeda dengan yang ‘lain’ yang pertama 😀 ).

Ada juga kecelakaan tunggal karena iseng sendiri, tapi saat itu kondisi jalan benar-benar sepi atau saya sedang berada di bahu jalan, aku pinggir tidak akan membayakan pengendara lain. Pernah juga dikarenakan malfungsi peralatan, tapi kecelakaan saat itu segera berlalu karena ‘korban’ dapat memaklumi (waktu itu cleat macet).

Saat saya menjadi sebab kecelakaan, seingat saya cuma 2 kejadian:
– saya menyenggol payung anak kecil yang sedang jalan di bahu jalan karena grip ban yang sudah aus (aku bener-bener maaf, Dek!),
– pengendara motor jatuh tepat di depan rumah ketika saya belok tajam ke kanan untuk masuk garasi rumah. Menurut saya penyebabnya karena pengemudi motor mengambil jarak yang yang terlalu dekat dengan saya pada bagian kanan lajur (padahal aku sudah memakan lajur dari arah berlawanan, lho!), dan saya tidak sempat memberi isyarat belok karena tepat sebelum itu berpapasan dengan kendaraan dari arah sebaliknya. (hayoo, bisa bayangin ga?)

2. Kelajuan rata-rata saya memang (sedikit) di atas kebanyakan pengendara sepeda di perkotaan.

Sering saya lihat speedometer pengendara motor untuk melihat kecepatan saya (maklum belum beli cyclocomputer), sekitar 30+ kmpj dengan roadbike (or wannabe) dan 20+ kmpj dengan city bike. Dan tidak jarang segera mengambil lajur kanan saat melaju agak cepat.

3. Jarak selebar dua sepeda adalah jarak yang aman untuk mendahului kendaraan lain (menurut saya pribadi, sih).

Jarak selebar 2 menurut saya sudah (lebih dari) cukup untuk mendahului kendaraan lain dengan beda kelajuan tidak kurang dari 5 kmpj (1,4 m/s) di jalan yang lalu-lintasnya tidak lebih kencang dari 40 kmpj. Sebagai contoh dengan angkutan umum (di Malang) tidak lebih panjang dari 7 meter, jadi dalam 5 detik kita dapat mendahuluinya dengan jarak yang cukup (sekitar semeter) untuk bermanuver ke kanan-kiri untuk memosisikan sepeda kembali ke lajur.

Tentunya kendaraan berbeda yang akan didahului memberikan perkiraan yang berbeda tentang jarak dan waktu yang dibutuhkan, jadi semuanya harus sama-sama ‘memberi jalan’.

3. Saya termasuk orang yang peduli dengan ‘agresivitas’ rem.

Rem di sepeda saya selalu saya atur pada pengaturan yang agresif, jarak brakepad dan rim yang sempit, ujung tuas rem mudah dijangkau sehingga memungkinkan memberikan kuasa yang besar pada tuas rem untuk hard-braking. Sering saya menemui pengaturan rem yang ‘asal berhenti’ pada sepeda orang lain, and that’s not nice!

4. Saya ga butuh ‘gaya-gayaan’
Menurutku, bersepeda itu tentang efektivitas, keamanan, dan kenyamanan. Saya ga mau gaya-gaya macam ‘no-hand’ saat dekat dengan kendaraan lain yang jaraknya tidak tidak lebih dari lebar sepeda (atau pakai sepeda doltrap!)

5. Saya berusaha menjaga konsentrasi di jalan.

Menggunakan ponsel saat mengemudi, bercakap-cakap dengan teman yang kebetulan bertemu di jalan—ugh, menurutku bukan tindakan yang baik.

6. Saya tidak pernah berniat menjatuhkan orang lain di jalan.

Pernah saya dipepet pengendara motor yang habis saya dahului (dari kanan). Pengendara motor tersebut nampak tidak terima (baca: tersinggung) dan kembali mendahului saya, namun entah kenapa mengurangi kelajuannya setelah itu. Saya sih yang masih lebih cepat mendahuluinya dari kiri (saat itu jalan sepi sehingga berani ambil dari kiri). Pengendara tersebut memojokkan saya ke bahu jalan sambil berteriak, “Mau apa kamu?!”.

Jujur, saat itu saya terpikir untuk menggoyang kemudi sepeda motornya sehingga pengendara jatuh kemudian saya pukulkan footstep sepeda yang tajam ke wajahnya waktu dia masih meronta kesakitan lepas jatuh dari motor. Tentunya saya urungkan niat buruk tersebut karena tentunya pikiran jahat tersebut bukan tindakan manusiawi.

7. Saya tidak ingin membahayakan pengendara lain.

Jika terjadi kecelakaan, saya berusaha meminimalisir efek dan jumlah korban. Taruhlah korbannya cuma saya dan dengan posisi badan yang benar sehingga hanya luka lecet yang didapat.

Jadi menurut Anda, ‘sembrono’-nya saya sekadar ‘ugal-ugalan’ atau nimble handling and measured speeding?