Aku masih ingat, saat aku duduk di “gajah” yang berputar, aku terlempar dan aku menangis.
Aku masih ingat, saat aku benar-benar ingin melompat ke bak pasir yang sudah tidak putih lagi.
Aku masih ingat, saat datang telat dan diberi roti coklat-kacang.
Lalu apa?

Terima kasih, Ayah!

Aku masih ingat saat kami adalah keluarga besar, di mana aku berperan jadi anak yang (paling) nakal.
Aku masih ingat saat kami membicarakan hal yang tidak pantas sambil memandangi pohon palem–bergaya seperti orang dewasa.
Aku masih ingat saat Ibu keliru memahami tentang aku dan mainan itu, lalu mengapa aku menangis?
Aku masih ingat saat harus naik ke panggung.
Aku masih ingat betapa superior dapat berpikir sama sederhananya denganku.
Aku ingat waktu aku benar-benar dimanja.
Aku ingat waktu aku pertama kali mengenal dia yang aku harap bisa duduk bersamaku untuk waktu yang lama.

Terima kasih, saudara-saudaraku!

Aku masih ingat waktu aku datang telat, dipanggil ke kantor, dan siangnya mengejek komputer yang tidak sejalan dengan seleraku.
Aku masih ingat waktu aku duduk di kursi kayu yang bentuknya dari kiri ke kanan sama, duduk di baris kelima.
Aku masih ingat, Matematika integral dasar, kami disuruhsa mencari volume bangun putar dari dua (persamaan) garis yang berbeda sebagai batas bangunnya.
Aku masih ingat, kemudian aku disuruh maju ke depan, mengerjakan soal, jawabannya sebetulnya cukup mudah, tapi memang aku jarang “memegang” papan tulis.
Aku masih ingat, saat disuruh kembali karena pekerjaan di papan tulis belum selesai—why don’t you let me do it they way I am willing to do?
Aku masih ingat saat aku membolos Fisika, tidur di mushala, lalu membenamkan diri di kamar mandi.
Aku masih ingat saat maaf yang diberikan terasa begitu instan
Aku masih ingat saat dimarahi karena tidak meneriakkan jawabanku, dan air putih itu…

Terima kasih, Paman dan Bibi! I’ve got my own way!

Aku, kali ini benar-benar kehilangan tujuan.
Aku, saat ini butuh orang yang bisa menarikku maju ke panggung, mendorongku saat aku diam di antrean yang sudah maju selangkah, menambahkan satu baris code yang aku terlupa, berbagi makanan, membantu merakit tiap node dalam cluster.

Aku harap Ibu masih di sana, walaupun hanya sekadar memberi sekapan di keningku, walau aku hanya bisa menyentukan telapak tangannya di dahiku di pagi hari.
Karena aku segera berlari bersama yang lain, dan yang lain, dan yang lain lagi.